Sistem Saraf Manusia

Sistem yang berarti suatu rantai yang akan saling berkaitan untuk menjalankan suatu tujuan. Sistem yang saling terhubung di tubuh kita, mengatur aktivitas tubuh kita, sistem itu bisa kita sebut juga sebagai sistem koordinasi.

Pernahkan ketika kamu terjatuh saat kaki tersandung batu? Apa yang kamu lakukan setelahnya? Ya, kita pasti akan merasa sakit, dan mungkin bisa saja menangis. Lain hal nya ketika kita menonton acara hiburan, apa yang akan kamu lakukan? Ya, tentu siapapun yang menonton jika dia normal maka akan tersenyum atau bahkan tertawa terbahak-bahak. Nah, sistem yang mengatur kita terasa sakit maupun teratawa kita sebut sebagai sistem koordinasi.
Sistem koordinasi sendiri nanti akan dibagi menjadi sistem indra, sistem saraf, dan sistem hormon. Secara singkatnya, sistem indra adalah reseptornya baik itu pengecap, pembau, pendengar, penglihat, pengrasa, yang akan meneruskan rangsangan ke bagian dari sistem saraf. Namun bukan berarti di sistem indra tidak ada saraf ya. Selanjutnya sistem saraf, adalah seperti otak dan sel-sel saraf yang menerima rangsangan dan yang nnantinya akan memberikan perintah terhadap tubuh kita. Yang terahir adalah sistem hormone, kerjanya sama dengan sistem saraf, namun berbeda sedikit di bagian bahwa hormone bekerja lambat.
Pada kesempatan kali ini, akan kita bahas mengenai sistem saraf, tentu sistem saraf pada manusia.


Sistem saraf menurut definisi seperti yang tadi kita bahas, secara fungsi sendiri sistem saraf sangat dibutuhkan oleh tubuh kita. Berdasarkan kerja sistem saraf yang dimulai dari rangsangan yang masuk, kemudian dikirim ke pusat sistem saraf yaitu di otak, kemudian langsung dikirimkan ke sel saraf lain yang akan menanggapi hal tersebut, dan ahirnya otak memerintahkan alat tubuh kita untuk bergerak. Dari kerjanya, kita bisa ketahui beberapa fungsi sistem saraf, yaitu sebagai pengontrol tubuh kita.

Fungsi sistem saraf, sebagai berikut :
  1. Mengatur organ-organ tubuh
  2. Menerima rangsangan dari lingkungan
  3. Mengendalikan dan memberikan reaksi terhadap rangsangan yang datang.


Penyusun sel saraf sndiri yang utama ada tiga. Akson, badan sel dan dendrit. Tiga bagian tadi kita kelompokan menjadi satu dan disebut neuron. Neuron berjumlah jutaan di dalam sistem saraf. Merupakan penyusun yang utama.

Neuron berdasarkan strukturnya sendiri, dapat dibedakan menjadi :
(1) Neuron Unipolar : Neuron Bipolar, Neuron multipolar

Sedangkan menurut cara kerjanya, di bagi menjadi dua :
  1. Sistem saraf sadar (Sistem saraf Somatik)
  2. Sistem saraf tidak sadar  (Sistem saraf otonom)

-          Sistem saraf simpatis
-          Sistem saraf parasimpatis

Dan berdasarkan letak dari keseluruhan saraf dibagi menjadi dua :
  • Susunan saraf pusat

Susunan Saraf Pusat (SSP) terdiri dari otak dan sumsum tulang belakang atau medulla spinalis. Disini menjadi sangat penting menjaga SSP supaya kita dapat mengontrol tubuh kita dengan baik. Karena kita tahu sistem ini adalah pengontrol tubuh, tempat menerima, menggambarkan, dan pengintegrasi serta menyampaikan  impuls saraf ke otot dan kelenjar.
  • Susunan saraf perifer/tepi

Susunan Saraf Perifer terdiri dari saraf kranial, spinal dan ganglia. Saraf ini akan berhubungan dengan otak, sementara saraf spinal akan berhubungan dengan spinalis, medulla spinalis. Ciri khas nya adalah sel-sel dan serabut sarafnya terletak di luar otak dan medulla spinalis, merupakan penghubung bagian tubuh lainnya.

Ada dua tipe sel saraf pada susunan saraf perifer :
  1. Aferen, yang menerima impuls/saraf.
  2. Eferen, yang mengantarkan ke efektor.


Sedangkan untuk gangguan nya kita akan bahas sedikit ya. Ada beberapa gangguan saraf yang sering terjadi, paling sering terjadi karena pasokan darah yang tidak memenuhi atau tidak mencapai ke sistem saraf.

  • Mononeuropati – Gangguan di saraf perifer (tepi) tunggal akibat trauma, tekanan, atau gangguan suplai darah. Contoh di sini bisa juga terjadi karena gangguan sistemik, seperti diabetes mellitus, atau penyakit gangguan perdarahan seperti vaskulitis.

  • Polineuropati, gangguan dari beberapa saraf perifer yang disebabkan oleh proses peradangan, toksik, atau metabolic, yang menyebabkan terganggunya pola difus, distal, dan simetris (sama) yang biasanya mengenai bagian tungkai kaki baru ke lengan.


Itu adalah bagian besar dari gangguan yang terjadi pada saraf manusia. Yang memang paling besar kemungkinan penyebabnya adalah akibat kerusakan pada bagian perdarahan (vaskularisasinya).

Yup, akhirnya selesai juga pembahasan mengenai sistem saraf kita. Meskipun tidak terlalu mendalam, namun semoga dapat berguna untuk pembaca.

Daftar pustaka
  • Mikrajuddi, Dkk.2003.  IPA TERPADU SMP dan MTs Jilid 3A untuk Kelas IX Semester 1.Jakarta:Erlangga
  • Satyanegara.2010.ILMU BEDAH SARAF SATYANEGARA.Jakarta : PT Gramedia pustaka utama
  • Ginsberg, Lionel.2007.Lecture Notes : Neurology.Jakarta:Erlangga
  • Muttaqin, Arif.2008.Buku Ajar Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan Sistem Pernapasan.Jakarta: Salemba Medika

Sistem Ekskresi Invertebrata

Baiklah sobat, kali ini kita akan membahas tentang Sistem Ekskresi pada Invertebrata, beberapa hewan invertebrata yang akan kita bahas yaitu cacing pipih, cacing tanah, dan serangga.

Baca juga : Sistem Ekskresi Ikan

Sebelumnya, kita mengetahui bahwa sistem ekskresi pada hewan invertebrata tergolong tidak rumit jika dibandingkan dengan sistem ekskresi hewan tingkat tinggi. Tujuan sistem ekskresi pada hewan ini juga sama, yaitu untuk mengeluarkan sisa metabolisme dari dalam tubuhnya.

Baca juga : Sistem Pernapasan Hewan Arthropoda

Sistem ekskresi cacing pipih


Pada cacing pipih (contoh : Planaria), proses pengeluaran zat sisa dilakukan melalui pembuluh yang bercabang-cabang dan memanjang pada bagian sisi kiri dan kanan di sepanjang tubuhnya. Setiap cabang akan berakhir pada sel-sel yang dinamakan sel-sel api (solenoid) yang dilengkapi dengan bulu-bulu getar (silia). Saluran ini disebut dengan protonefridium (proton : sebelum, nephros : ginjal). Silia dalam setiap sel api ini bersifat dinamis (selalu bergerak). Akibat gerakan silia tersebut, air, cairan tubuh, dan zat sisa metabolisme lainnya akan terdorong masuk ke dalam saluran ekskresi. Dari saluran ekskresi, zat-zat tadi akan dikeluarkan dari tubuh melalui satu lubang yang dinamakan nefridiofor.

Sistem ekskresi cacing tanah

Cacing tanah termasuk ke dalam kelompok Annelida (cacing bersegmen). Pada setiap segmen terdapat sepasang ginjal atau nefridium (jamak = nefridia), kecuali pada tiga segmen pertama dan segmen terakhir. Setiap nefridium memiliki corong yang terbuka dan memiliki silia yang disebut nefrostom. Nefrostom terletak dalam rongga tubuh dan selalu berisi cairan.


Cairan tubuh akan ditarik dan diambil oleh nefrostom, yang kemudian masuk ke dalam nefridia yang berupa pembuluh panjang dan berliku-liku. Saat cairan tubuh mengalir melalui nefridia terjadi penyerapan kembali zat-zat yang masih bermanfaat, seperti glukosa, air, dan ion-ion. Zat-zat tersebut kemudian diedarkan ke seluruh kapiler sistem sirkulasi. Sisa cairan tubuh, seperti air, nitrogen, dan garam-garam yang tidak dibutuhkan lagi oleh tubuh akan dikeluarkan melalui ujung nefrostom yang berupa lubang.

Sistem ekskresi serangga

Alat ekskresi pada serangga adalah tubula atau pembuluh Malpighi. Pembuluh malpighi adalah tabung kecil yang panjang. Pembuluh ini terletak di dalam homosol dan tergenang di dalam darah. Pangkal dari pembuluh Malpighi ini melekat pada ujung anterior dinding usus dan bagian ujungnya menuju homosol yang mengandung hemolimfa. Hemolimfa adalah darah pada invertebrata dengan sistem peredaran darah terbuka.


Pembuluh Malpighi bagian dalam tersusun oleh selapis sel epitel yang berperan dalam pemindahan urea, limbah nitrogen, garam-garam, dan air dari hemolimfa ke dalam rongga pembuluh. Bahan-bahan yang penting dan air masuk ke dalam pembuluh, lalu diserap kembali secara osmosis di rektum untuk diedarkan ke seluruh tubuh hemolimfa. Sedangkan bahan yang mengandung nitrogen akan diendapkan sebagai kristal asam urat yang akan dikeluarkan bersama feses melalui anus.

Baca juga : Transport Zat Melalui Membran Sel

Referensi :
  • Aryulina, Diah. Biologi 2. Jakarta : ESIS Erlangga, 2009.



Inilah postingan kali ini mengenai Sistem Ekskresi Invertebrata, semoga bermanfaat bagi teman-teman semuanya. Arigatou gozaimasu J

Sistem Pernapasan Ikan

Baiklah sobat, kali ini kita akan membahas tentang Sistem Pernapasan Ikan. Ikan memiliki sistem pernapasan yang unik karena lingkungannya yang berbeda dengan hewan lain. Untuk lebih jelasnya silakan simak uraian berikut.

Baca juga : Sistem Ekskresi Ikan

Alat pernapasan yang dimiliki ikan adalah insang. Salah satu sumber menyebutkan bahwa terdapat pembagian untuk insang tersendiri, (1) ikan yang memiliki tutup insang atau disebut operkulum, fungsinya yaitu untuk melindungi insang. Biasanya operkulum ini terdapat pada ikan yang memiliki tulang sejati, contohnya ikan gurame. (2) ikan yang tidak memiliki tutup insang. Pada sumber tidak disebutkan contohnya, tapi kemungkinan adalah ikan yang tidak memiliki tulang sejati.

Baca Juga : Sistem Pernapasan Burung

Pada ikan gurame yang memiliki operkulum, insang terletak di sisi kiri dan kanan kepala ikan, terletak di dalam rongga insang. Jumlah insang pada setiap sisi berkisar antara lima hingga tujuh baris, yang masing-masing dipisahkan oleh celah insang.

Insang pada ikan tersusun dari beberapa bagian,
  • Lengkung insang berupa tulang rawan
  • Rigi-rigi insang berada di depan lengkung insang, tersusun oleh tulang dan berfungsi untuk menyaring air
  • Lembaran insang yang terletak di belakang lengkung insang, berwarna merah, berbentuk seperti sisir, dan di dalamnya banyak mengandung arteri insang.



Ada hal menarik yang dimiliki oleh jenis ikan tertentu, contohnya ikan gabus, gurame dan lele. Ikan tersebut mengalami perluasan insang yang berlipat-lipat dan tidak beraturan yang berbentuk dan bahkan disebut sebagai labirin. Labirin berfungsi sebagai tempat penyimpanan udara sehingga ikan ini dapat hidup di air yang kadar oksigennya rendah.

Baca juga : Sistem Pernapasan Manusia

Mekanisme pernapasan ikan yang memiliki tutup insang adalah:
  1. Fase inspirasi (menarik napas), air dimasukkan ke dalam rongga mulut. Rongga mulut pun akan membesar akibat adanya gerakan ke samping tutup insang.
  2. Fase ekspirasi (membuang napas), setelah ait masuk ke rongga mulut, celah mulut tertutup. Tutup insang akan kembali ke posisinya semula, yang diikuti gerakan selaput ke samping sehingga celah insang terbuka. Terbukanya celah insang menyebabkan air keluar.




Air yang keluar melalui celah-celah insang akan menyentuh lembaran-lembaran insang. Lembaran insang ini banyak mengandung kapiler darah, sehingga pada bagian inilah terjadi pertukaran gas, yaitu darah mengikat oksigen dan melepaskan karbon dioksida.

Ikan bernapas dengan insang. Walaupun mekanisme terjadi melalui inspirasi dan ekspirasi, tetapi pertukaran gas oksigen dan karbon dioksida terjadi di lembaran insang pada saat ekspirasi.

Referensi:
  • Aryulina, Diah. Biologi 2 SMA. Jakarta : ESIS Erlangga, 2009.
  • Mikrajuddi. Biologi 2A SMP/MTs. Jakarta : ESIS Erlangga, 2010.



Inilah postingan kali ini mengenai Sistem Pernapasan Ikan, sobat. Semoga bermanfaat dan jangan sungkan untuk bertanya melalui kolom komentar. Kami sebagai admin akan berusaha menjawab. Arigatou gozaimasu. J

Sistem Ekskresi Ikan

Baiklah sobat, kali ini kita akan membahas mengenai Sistem Ekskresi pada Ikan. Tentu saja sistem sekresi antara ikan dengan makhluk lain berbeda-beda, termasuk manusia. Untuk mengetahui lebih lanjut tentang sistem eksresi manusia, silakan dibaca di Sistem Ekskresi pada Manusia

Ikan hanya mempunyai alat ekskresi berupa sepasang ginjal yang dinamakan opistonefros. Opistonefros ini berbentuk lonjong dan berwarna kecoklatan. Pada beberapa jenis ikan, seperti ikan mas, saluran kemih berhubungan atau menyatu dengan saluran kelenjar kelamin yang disebut sebagai saluran urogenital. Saluran urogenital ini terletak di belakang anus, sedangkan pada beberapa jenis ikan lainnya memiliki kloaka. Selain itu, ginjal juga menjaga keseimbangan cairan tubuh dengan larutan di sekitarnya menggunakan insang sebagai ala ekskresi.

Baca juga : Sistem Pernapasan Pada Hewan Arthropoda

Pada insang yang bernapas menggunakan insang, urin dikeluarkan melalui kloaka atau porus urogenitalis, sedangkan karbon dioksida dikeluarkan melalui insang. Hal ini berbeda dengan ikan yang bernapas menggunakan paru-paru, ikan jenis ini melepaskan karbon dioksida melalui paru-paru dan urin dikeluarkan melalui kloaka.

a. Ikan air tawar, b. Ikan air laut

Perbedaan juga terjadi antara ikan yang hidup di laut dengan ikan yang hidup di air tawar. Ikan air laut memiliki konsentrasi garam yang tinggi di dalam darahnya sehingga cenderung akan menarik cairan dari dalam sel ke dalam darah (karena sifat garam adalah menarik cairan), oleh karena itu insang ikan air laut selalu menyesuaikan kadar garam di dalam darahnya dengan cara membuang kelebihan garam dari tubuhnya. Ginjal ikan air laut juga hanya mengeluarkan sedikit urin untuk mencegah terjadinya kekurangan air di dalam tubuhnya.

Baca Juga : Sistem Pernapasan pada Burung

Ikan air tawar cenderung untuk menyerap air dari luar tubuhnya dengan cara osmosis. Insang ikan air tawar aktif memasukkan garam ke dalam tubuhnya agar tidak terjadi “penumpahan” cairan ke dalam sel akibat tekanan osmotik dalam darah yang turun. Ginjal ikan secara aktif juga membantu menseksresikan urin denga konsentrasi air yang tinggi.

Ikan yang hidup di air tawar mengekskresikan amonia dan aktif menyerap oksigen melalui insang, serta mengeluarkan urin dalam jumlah banyak, Ikan air laut akan mengekskresikan amonia melalui urin yang jumlahnya sedikit.

Referensi:
  • Aryulina, Diah. Biologi 2. Jakarta : Esis Erlangga, 2009.
  • Firmansyah, Rikky. Mudah dan Aktif Belajar Biologi. Jakarta : Grafindo Media Pratama, 2009.
  • Susilowarno, Gunawan. Biologi SMA/MA Kelas XI. Jakarta : Dinas Pendidikan, 2008.



Inilah artikel kali ini mengenai Sistem Ekskresi pada Ikan, semoga bermanfaat J

Sistem Ekskresi Manusia

Jika teman-teman sebelumnya ada belajar mengenai sistem pencernaan dan sistem pernapasan pada bab lain. Nah, hasil ahirnya itu merupakan zat sisa seperti feses dan CO2 yang jika terlalu lama atau terlalu banyak mengumpul didalam tubuh dapat mengganggu keseimbangan di dalam tubuh, dan ujung-ujungnya akan menyebabkan tubuh kita menjadi sakit.

Sistem ekskresi yang akan kita bahas, penting dalam memahami proses pengeluaran zat yang dihasilkan dari sistem pernapasan dan pencernaan. Karena itu, mari kita mulai membahas satu-persatu.

Pengertian

Sistem sendiri berasal dari bahasa latin (Systema) dan bahasa Yunani (Sustema) adalah suatu kesatuan yang terdiri komponen atau elemen yang dihubungkan secara bersama supaya memudahkan aliran energy, informasi, materi untuk mencapai suatu tujuan.
Ekskresi sendiri adalah pengeluaran zat sisa metabolism dari dalam tubuh melalui organ-organ tertentu.
Jadi dapat kita simpulkan sistem ekskresi adalah sistem yang mengatuh keseimbangan materi, energy yang ada didalam tubuh kita dengan berfokus terhadap pengeluaran zat sisa yang tidak dipakai lagi. Baik mungkin sudah terlalu banyak ya, secara sederhananya sistem ekskresi adalah sistem yang mengatur pengeluaran zat sisa yang ada di dalam tubuh kita.

Organ Ekskresi

Organ ekskresi adalah organ yang menyusun dari sistem ekskresi itu sendiri. Ada 4 organ yang menyusunnya dan ke 4 nya ini sangat penting bagi tubuh kita. Empat organ tersebut adalah paru-paru, hati, kulit, dan ginjal. Baik, kita mulai sesuai urutannya saja ya.

1.      Paru-paru

Paru ada 2 buah atau sepasang, teletak di rongga dada di tubuh kita, kanan dan kiri. Dipidahkan oleh mediastinum dan dibatasi tulang rusuk I (Os. Costae I) sampai ke diagfragmatika. Bagian kanan dari paru terdiri dari 3 lobus dan bagian kiri dari 2 lobus.


Fungsi utama paru, adalah sebagai alat pernapasan. Namun dalam hal ini paru akan mensekresikan zat sisa metabolismenya, yaitu karbondioksida (CO2).

Baca Selengkapnya : Sistem Pernapasan Manusia

CO2 dan H2O adalah zat sisa metabolism pernapasan, darah yang dari jaringan, kemudian masuk ke dalam jantung bagian kiri, kemudian dipompakan ke paru-paru. Di paru-paru lah, atau lebih tepatnya di alveoluslah CO2 dan H2O yang merupakan zat sisa dikeluarkan dan diganti dengan O2 dan kembali masuk ke jantung bagian kiri, dan dipompakan ke seluruh tubuh untuk memenuhi kebutuhan energy.

2.     Hati

Hati terletak di rongga perut bagian kanan pada keadaan normal. Terdapat di bawah diagfragmatika.


Hati menghasilkan empedu. Karena itu hati masuk ke dalam organ ekskresi dalam tubuh manusia. Empedu sendiri adalah zat sisa metabolism, terdiri dari air, garam empedu, asam empedu, kolesterol, zat warna empedu, dan zat lain. Hati juga menjadi tempat perombakan dari hemoglobin tua, ini tentu sangat bagus. Dimana jika hemoglobin sudah tua, maka dia tidak berfungsi maksimal. Setelah dirombak, terbentuklah bilirubin. Bilirubin dan empedu tadi dikeluarkan secara bersama-sama kedalam usus, di dalam usus bilirubin dipecah menjadi sterkoblin, dan urobilin. Sterkobilin memberi warna feses atau tinja. Urobilin memberi warna  urin.

Baca Selengkapnya : Pengertian, Fungsi, dan Bagian Hati

Jika terjadi gangguan dari pembentukan maupun penyaluran, maka biasanya akan terjadi penumpukan bilirubin dalam darah dan tidak adanya dalam feses. Akan menyebabkan warna urin atau feses putih/coklat, dan warna kulit kekuningan. Sering disebut orang penyakit kuning.

3.     Kulit

Kulit adalah bagian terluar dari permukaan tubuh. Berfungsi sebagai alat indra, alat pengeluaran, dan alat pengatur suhu tubuh. Nah, tentu kita disini akan membahas fungsi kulit sebagai alat pengeluaran, yang mungkin nanti akan menyambung juga sedikit sebagai alat pengatur suhu dan alat perlindungan tubuh.


Struktur kulit terdiri dari 3 lapisan utama, yaitu : Epidermis atau kulit ari, dermis kulit jangat, endo dermis yang berisi cadangan lemak.

Baca Selengkapnya : Pengertian, Fungsi, dan Bagian Kulit

Dalam struktur kulit ini bagian yang berfungsi penting adalah pada lapisan dermis. Dimana pada bagian ini lah yang berfungsi sebagai ekskresi. Contohnya: saat teman-teman melakukan aktivitas olahraga, suhu tubuh akan meningkat, akan membuat pembuluh darah di kapiler mengembang, sehingga akan lebih banyak darah yang mengalir di sana. Sehingga membuat memerah pada kulit. Selain itu keringat akan dikeluarkan sebagai penyeimbang dari darah yang banyak mengalir tadi, kemudian keringat itu diuapkan, nah disini suhu tubuh akan turun.
Proses diatas juga yang menyebabkan setelah berkeringat kita akan merasa haus.

4.     Ginjal

Pada versi manusia, ginjal merupakan organ ekskresi utama. Merupakan organ yang paling berat bekerja untuk membuang zat sisa dan mengatur keseimbangan zat-zat dari dalam tubuh.
Bentuk ginjal sendiri seperti kacang merah besar. Ada 2 ginjal atau sepasang ginjal, di kanan dan kiri perut bagian atas belakang dari manusia. Jika dibelah secara membujur, maka akan terlihat bagian luar ginjal (korteks) dan bagian dalamnya (medulla, serta rongga-rongga ginjal (pelvis).


Sistem yang bekerja disini hampir sepenuhnya dilakukan  oleh nefron. Nefron adalah unit fungsional dari ginjal. Satu ginjal kurang lebih terdiri dari  satu juta nefron.

Baca Selengkapnya : Pengertian, Fungsi, dan Bagian Ginjal

Nefron terdiri dari beberapa bagian, terdiri atas kapsula bowman (yang terdapat glomerulus), tubulus proksimal, tubulus distal, dan lengkung henle.

Beberapa peranan ginjal dalam proses ekskresi adalah:
  1. Mensekresikan zat sisa metabolisme, contoh urea, asam urat, kreatinin, keratin, dan zat lain yang bersifat racun bagi tubuh kita
  2. Mengatur volume plasma darah dan jumlah air di dalam tubuh.
  3. Mengatur tekanan osmosis dalam darah, supaya tubuh tidak kehilangan garam-garam yang penting dalam keseimbangan elektrolit.
  4. Mengatur kadar keasamam atau pHH dalam plasma darah dan cairan tubuh. Dengan mensekresikan urin yang bersifat asam atau basa.


Di dalam ginjal, terjadi proses terpenting untuk ekskresi yaitu proses filtrasi, reabsorpsi, dan augmentasi sehingga nanti terbentuklah urin dan akan dikeluarkan dari tubuh.

Secara singkat kita akan membahas melalui diagram panah. Yaitu sebagai berikut :

Darah à menuju ke glomerulus à mengalami proses filtrasi à urine primer (urin bebas sel darah dan protein) à masuk ke dalam tubulus proksimal dan lengkung henle à terjadi reabsorpsi (penyerapan kembali glukosa, asam amino, garam) à urine sekunder à mengalir ke tubulus distal à terjadi proses augmentasi à penambahan zat-zat yang tidak dibutuhkan à penambahan urea dan zat tertentu à urin sebenarnya.

Baca selengkapnya : Proses Pembentukan Urin

Nah, bagaimana teman-teman? Kita telah membahas sistem ekskresi utama dalam tubuh manusia. Semoga dengan mengetahui hal ini, teman-teman menjadi lebih care atau peduli terhadap ekskresi kita ya. Sekian dan terima kasih.

Daftar Pustaka

  • Abdullah, Kirajuddin, dkk.2007.IPA TERPADU SMP dan MTs Jilid 3A untuk Kelas IX Semester 1.Jakarta:Erlangga
  • Aryulina, Diah, dkk.2006.Biologi SMA dan MA untuk Kelas XI.Jakarta:Erlangga
  • Djoko, Arisworo, dkk.2006.IPA Terpadu (Biologi, Kimia, Fisika).Jakarta:Grafindo Media Pratama
  • Furqonita, Deswanty. 2007.Seri 3 BIOLOGI SMP kelas IX.Jakarta:Yudhistira

Sistem Pernapasan pada Hewan Arthropoda

Baiklah sobat, kali ini kita akan membahas tentang Sistem Pernapasan pada Hewan Arthropoda. Hewan yang termasuk ke dalam anggota filum Arthropoda adalah Crustacea (golongan udang dan kepiting), Myriapoda (golongan lipan dan luang), Arachnida (golongan laba-laba dan kalajengking), dan Insecta (golongan serangga). Hewan anggota filum ini mempunyai cara dan alat pernapasan yang berbeda-beda. Hewan yang hidup di air bernapas menggunakan insang, sedangkan hewan yang hidup di darat bernapas menggunakan trakea atau paru-paru buku. Trakea adalah saluran-saluran udara yang berguna untuk mengedarkan oksigen ke seluruh tubuh serangga. Sedangkan paru-paru buku adalah alat pernapasan yang mempunyai struktur bertumpuk dan bentuknya mirip buku. Sebagai contoh, Crustacea bernapas dengan insang, Myriapoda dan Insecta bernapas dengan trakea, sedangkan Arachnida bernapas dengan paru-paru buku.

Baca juga : Klasifikasi Makhluk Hidup 5 Kingdom

Pernapasan pada Insecta berlangsung dengan menggunakan sistem trakea. Udara keluar-masuk bukan melalui mulut tetapi melalui lubang-lubang sepanjang kedua sisi tubuhnya yang dinamakan stigma atau spirakel. Pada tiap-tiap ruas tubuh terdapat sepasang stigma, di sebelah kiri dan di sebelah kanan. Stigma selalu terbuka dan merupakan lubang menuju ke pembuluh trakea. Trakea kemudian akan bercabang-cabang sampai ke pembuluh halus untuk mengalirkan udara ke seluruh bagian tubuh. Udara masuk melalui stigma kemudian akan menyebar melalui trakea dan cabang-cabangnya.

Sistem Pernapasan Serangga dan Ikan (http://kids.britannica.com/comptons/art-53912/Insects-breathe-through-small-paired-holes-called-spiracles-which-open)

“Oksigen diedarkan tidak melalui darah, melainkan langsung dari pembuluh trakea ke sel-sel sekitar. Dengan demikian cairan tubuh serangga (“darah serangga”) tidak berfungsi mengangkut udara pernapasan melainkan hanya berfungsi mengedarkan sari makanan dan hormon”

Proses pernapasan serangga terjadi karena otot-otot yang bergerak secara teratur. Kontraksi otot-otot tubuh mengakibatkan pembuluh trakea mengembang dan mengempis, sehingga udara keluar masuk melalui stigma. Pada saat trakea mengembang, udara masuk melalui stigma, selanjutnya udara masuk ke dalam trakea, lalu ke dalam trakeolus dan akhirnya masuk ke dalam sel-sel tubuh. Oksigen berdifusi ke dalam sel-sel tubuh. Karbon dioksida hasil pernapasan dikeluarkan melalui sistem trakea yang akhirnya dikeluarkan melalui stigma saat trakea mengempis.

Baca juga : Sistem Pernapasan pada Burung

Pada serangga yang hidup di air, misalnya pada nimfa serangga, terdapat insang trakea. Alat ini mempunyai permukaan yang sangat halus untuk memperoleh oksigen di dalam air secara difusi. Bagi serangga yang hidupnya di air, insang tersebut hanya berfungsi pada masa larva, kemudian akan tereduksi atau hilang pada saat dewasa dan berpindah ke darat.

Baca juga : Sistem Pernapasan pada Manusia

Sumber:
  • Aryulina, Diah. 2009. Biologi 2. Jakarta : Penerbit Erlangga.
  • Istamar Syamsuri, dkk. 2007. Biologi untuk SMA Kelas XI Semester 2. Jakarta : Penerbit Erlangga.



Demikianlah artikel kali ini mengenai Sistem Pernapasan pada Hewan Arthropoda, semoga bermanfaat bagi sobat sekalian. J

Sistem Pernapasan (Aves) Burung

Baiklah sobat, kali ini kita akan membahas tentang Sistem Pernapasan pada Burung. Burung dapat terbang dengan sayapnya yang digerakkan oleh otot-otot yang terdapat pada dada. Penggunaan otot ini saat terbang akan mengganggu proses inspirasi (pengambilan napas) oleh paru-paru. Maka, selain mempunyai paru-paru, burung mempunyai alat bantu pernapasan yang khas yaitu kantong udara.

ALAT PERNAPASAN BURUNG

Saluran pernapasan burung terdiri dari lubang hidung, trakea, bronkus, paru-paru, dan kantong udara. Kantong udara ini berhubungan dengan paru-paru. Umumnya, kantong udara pada burung berjumlah sembilan buah, yaitu
  1. dua buah kantong udara di leher,
  2. sebuah kantong udara antartulang selangka,
  3. dua buah kantong udara dada depan,
  4. dua buah kantong udara dada belakang, dan
  5. dua buah kantong udara perut.


Kantong udara (sakus pneumatikus) berfungsi untuk membantu burung bernapas saat terbang, membantu membesarkan ruang siring sehingga dapat memperbesar dan memperkeras suara, menyelubungi alat-alat dalam rongga tubuh sehingga tidak kedinginan, dan membantu mencegah hilangnya panas tubuh yang terlalu besar.

Anatomi Pernapasan Burung (www.paulnoll.com/Oregon/Birds/)

Trakea bercabang menjadi bronkus kiri dan kanan. Paru-paru pada burung dibungkus oleh selaput paru-paru (pleura) dan berhubungan dengan kantung udara. Paru-paru burung tidak mempunyai alveoli tetapi diganti dengan pembuluh udara yang disebut parabronki. Saluran udara pada parabronki bercabang-cabang, yaitu berupa pembuluh kapiler udara yang berdampingan dengan kapiler darah.

Pada bagian bawah trakea, yaitu pada percabangan tenggorokan, terdapat alat suara atau siring. Siring memiliki selaput yang akan bergetar dan menghasilkan bunyi bila dilewati udara.

MEKANISME PERNAPASAN

Pengambilan udara pada burung ada dua cara, yaitu pada waktu terbang dan pada waktu istirahat.

Pada saat terbang, burung tidak bisa menggunakan rongga dada untuk melakukan penarikan dan pengeluaran napas karena tulang dada dan tulang rusuk adalah tempat perlekatan otot-otot untuk terbang. Pernapasan dilakukan dengan menggunakan cadangan udara di dalam kantung udara.
Pada waktu terbang melayang tanpa mengepakkan sayap, udara diisap masuk ke dalam paru-paru kemudian disalurkan menuju kantong udara yang merupakan tempat penyimpanan udara. Selama terbang dengan mengepakkan sayap, pernapasan burung terutama menggunakan cadangan udara di dalam kantong udara. Pada saat sayap diangkat ke atas, kantong udara di ketiak akan mengembang sehingga udara masuk. Apabila sayap diturunkan, kantong udara di ketiak akan terjepit, sedangkan kantong udara antarkorakoid akan mengembang sehingga udara keluar. Pertukaran oksigen oleh darah hanya terjadi di paru-paru saja. Dengan cara ini maka darah dapat mengambil oksigen sebanyak-banyaknya, sehingga burung dapat memenuhi kebutuhan oksigennya saat terbang.

Pengambilan udara saat burung istirahat adalah sebagai berikut. Fase inspirasi (penarikan napas) diawali dengan pergerakan tulang rusuk ke depan sehingga memperbesar rongga dada dan paru-paru menjadi mengembang. Hal ini menyebabkan udara dapat masuk ke paru-paru. Sebagian udara yang kaya oksigen ini akan diambil oleh paru-paru dan sebagian lagi dialirkan ke kantung udara belakang. Udara yang miskin oksigen akan masuk ke kantung udara depan. Fase ekspirasi (pengeluaran napas) terjadi saat pengecilan rongga dada yang diikuti dengan mengecilnya paru-paru, sehingga udara di dalam kantung udara akan dikeluarkan melalui paru-paru.

Sumber:
  • Aryulina, Diah. 2009. Biologi 2. Jakarta : Penerbit Erlangga.
  • Istamar Syamsuri, dkk. 2007. Biologi untuk SMA Kelas XI Semester 2. Jakarta : Penerbit Erlangga.
Itulah postingan kita kali ini mengenai Sistem Pernapasan pada Burung, semoga bermanfaat bagi semuanya. J