Pengertian, Ciri - Ciri, Struktur Tubuh dan Klasifikasi Echinodermata

Selamat datang di softilmu blog sederhana yang berbagi dengan penuh keikhlasan. Kali ini kami akan berbagi ilmu tentang Filum Echinodermata, beberapat topik utama dalam pembahasan adalah Pengertian Echinodermata, Struktur Tubuh, Sistem Organ, Ciri – Ciri, dan Klasifikasi Echinodermata.

A. PENGERTIAN ECHINODERMATA
Secara bahasa Echinodermata adalah Hewan yang kulitnya berduri, karena kata Echinodermata berasalh dari dua kata dalam bahasa yunani, yaitu Echi yang artinya berduri, dan Derma yang artinya kulit. Echinodermata hidup di laut atau air payau. Umumnya Echinodermata bergerak dengan lambat dan tidak ada yang hidup bersifat parasit. Beberapa spesies hidup menempel (sesil). Echinodermata dewasa memiliki tubuh berbentuk simetri radial, yaitu bagian tubuh yang sama didistribusikan dalam susunan melingkar disekitar poros tengah. Sedangkan larvanya memiliki tubuh simetri bilateral, yaitu bagian tubuh yang satu berdampingan dengan bagian tubuh yang lain, dan apabila ditarik garis dari depan ke belakang akan didapatkan bagian tubuh yang sama antara kiri dan kanan. Larva dari hewan ini mikroskopis, transparan, bersilia, dan biasanya berenang bebas di laut.

B. STRUKTUR TUBUH ECHINODERMATA
SUMBER GAMBAR KLIK DISINI
Hewan ini memiliki kulit keras yang disusun oleh zat kapur. Echinodermata memiliki lima lengan berbentuk seperti jari, dan organ-organ tubuhnya berjumlah lima atau kelipatannya. Umumnya Hewan Echinodermata bertubuh kasar karena adanya tonjolan kerangka dan duri pada tubuhnya.
Ciri khas dari Filmu Echinodermata adalah memiliki sistem tabung (Ambulakral), yaitu jaringan hidrolik yang akan menjulur membentuk kaki tabung (Ambulakral). Sistem ini berawal dari lubang tempat masuknya air pada bagian atas yang disebut Madreporit. Pada setiap saluran air terdapat ujung kaki tabung yang disebut ampula. Apabila Sistem tabung ini dipenuhi air, maka kaki tabung berfungsi untuk bergerak, dan dapat dipakai sebagai permukaan pernapasan. Jadi Sistem Ambulakral ini berfungsi untuk lokomosi (Pergerakan), makan, dan untuk pertukaran gas.

C. SISTEM ORGAN ECHINODERMATA
Sistem Peredaran darah pada echinodermata masih belum jelas, masih ddeskripsikan secara sederhana, yaitu pembuluh darah berawal dari yang mengelilingi mulut, kemudian berjabang pada setiap kaki tabung.
Sistem Pernapasan Echinodermata dilakukan dengan menggunakan insang atau pupula (tonjolan dari rongga tubuh)
Sistem persarafan Hewan ini terdiri dari saraf berbentuk lingkaran (cincin) yang mempersarafi mulut, dan saraf radial seperti tali yang mempersarafi bagian lengan atau kaki tabung.
Sistem Reproduksi Echinodermata berlangsung secara seksual, yaitu hewan jantan dan betina melepaskan sel gametnya ke air laut, dan proses fertilisasi berlangsung secara eksternal (di dalam air laut).
Sistem Pencernaan terdiri dari mulut, esofagus, lambung, usus dan anus, bisa dikatakan jika sistem pencernaannya sudah sempurna. Namun tidak terdapat sistem eksresi pada hewan ini.

D. CARA HIDUP ECHINODERMATA
Echinodermata merupakan hewan yang hidup secara bebas artinya habitat hewan ini dapat dimana saja, bisa di laut pantai sampai laut dalam. Makanan tergantung kepada jenisnya, contoh makannya adalah plankton, atau organime yang mati / membusuk.

E. CIRI – CIRI ECHINODERMATA
  • Permukaan tubuhnya terdiri dari tonjolan-tonjolan yang menyerupai duri.
  • Memiliki Sistem Tabung jaringan hidrolik
  • Bergerak dengan menggunakan kaki ambulakral, yaitu kaki tabung yang memiliki lubang – lubang kecil berfungsi untuk menghisap
  • Bentuk Tubuh Echinodermata Simetri Radial, sedangkan bentuk tubuh larvanya simetri lateral

F. KLASIFIKASI ECHINODERMATA
Berdasarkan bentuk tubuhnya, Echinodermata dikelompokkan ke dalam lima kelas, yaitu :

1. Kelas Archoidea
Archoidea merupakan hewan berbentuk bintang yang biasa disebut bintang laut. Asteroida banyak ditemukan di laut pantai. Asteroidea merupakan kelas filum echinodermata yang memiliki spesies terbanyak, yaitu sekitar 1.600 spesies. Archoidea memiliki bagian tubuh oral (Bagian tubuh dengan mulut) dan bagian aboral (Bagian tubuh dengan anus).

Kelas ini memiliki sistem ambulakral yang terdiri dari pembuluh darah air (jaringan hidrolik) yang akan membentuk kaki / lengan. Bagian Kaki/lengan berfungsi sebagai alat gerak, untuk menempel, dan untuk menemukan makanan. Di ujung kaki ini terdapat bintik mata yang dapat membedakan antara terang dan gelap. Bintang laut umumnya memiliki duri yang tumpul dan pendek. Disekeliling duri terdapat duri kecil termodifikasi yang dinamakan pedicelaria, bagian ini berfungsi untuk menangkap makanan dan melindungi tubuh dari kotoran. Pada bagian dekat anus terdapat lubang air yang disebut medreporit. Archoidea memiliki saluran cincin yang terletak di pusat tubuh, serta saluran radial yang merupakan cabang saluran cincin di bagian lengan.

2. Kelas Echinoidea
SUMBER GAMBAR KLIK DISINI
Echinoidea adalah Echinodermata yang tubunya dipenuhi bagian berbentuk seperti duri. Bulu Babi atau landak laut merupakans salah satu jenis dari kelas Echinoidea. Bentuk tubuh utamanya agak bulat dan tidak memiliki lengan, namun terdapat duri yang banyak. Ada yang memiliki duri pendek adapula yang panjang. Duri dari Echinoidea terbentuk oleh zat kapur. Tubuh Echinoidea memiliki otot yang berfungsi untuk memutar duri tersebut sehingga dapat membuatnya bergerak. Mulut dari hewan ini mempunyai struktur mirip rahang yang membantu dalam memakan mangsa.

3. Kelas Crinoidea
SUMBER GAMBAR KLIK DISINI
Crinoidea memiliki bentuk tubuh menyerupai bunga atau tumbuhan. Crinoidea merupakan anggota filum echinodermata yang memiliki spesies paling sedikit (sekitar 550 spesies) dan merupakan kelompok paling primitif dari filum echinodermata. Hewan ini hidup di pantai sampai dengan kedalaman laut 3.500 meter di bawah permukaan laut. Tubuhnya tidak memiliki duri, dan apabila memiliki tangkai disebut lilia laut (Apabila bertangkai ia akan menempel pada dasar laut dengan sirri, yaitu bagian ujung tangkai yang memiliki zat tanduk), sedangkan yang tidak memiliki tangkai disebut bintang laut berbulu.

Pada bagian dasar tubuh (kaliks) jenis ini terdapat sisi oral (mulut) dan sisi anus sedangkan lengannya berjumlah banyak mengelilingi bagian kaliks tersebut. Biasanya jumlah lengan Crinoidea merupakan kelipatan lima dan memiliki cabang yang disebut pinula. Pada sisi oral terdapat celah bersilia yang disebut celah ambulakral. Celah ini berfungsi untuk menangkap makanan, yaitu cairan, zooplankton, atau partikel lainnya yang tersebar di air laut.

4. Kelas Ophiuroidea
SUMBER GAMBAR KLIK DISINI
Ophiuroidea adalah kelas yang bentuknya menyerupai bintang laut, namun memiliki lengan yang lebih panjang dan lebih kurus dan cakram pusat tubuh yang lebih jelas.  Apabila kakinya digerakkan maka pergerakannya menyerupai ular, oleh karena itu Kelas Ophiuroidea juga disebut Bintang Mengular. Kaki tabungnya ini tidak memiliki penyedot dan juga bergerak dengan mencambukkan kakinya sehingga kaki ini lebih mudah patah. Kaki / lengan ini juga berfungsi untuk menangkap mangsanya kemudian memasukkannya ke dalam mulut. Beberapa jenis pemakan cacing, moluska, suspensi atau bangkai. Hewan ini tidak memiliki anus dan biasanya hidup di sela bebatuan.

5. Kelas Holothuroidea
SUMBER GAMBAR KLIK DISINI
Holothuroidea adalah kelas filum Echinodermata yang memiliki tubuh bulat memanjang dari permukaan oral ke permukaan aboral. Tubuhnya terlihat seperti bentuk buah timun sehingga sering disebut timun laut. Namun konsistensi tubuhnya agak berbeda dengan kelas lain, hewan ini memiliki tubuh yang lunak dan halus, ia digolongkan ke dalam Echinodermata karena memiliki bagian tubuh kelipatan lima dan memilii sistem ambulakral. Mentimun laut memiliki tentakel pada bagian oral berjumlah 10 – 30 buah. Pada tubuhnya terdapat kaki ambulakral yang berfungsi untuk bergerak dan bernapas. Pergerakan dilakukan dengan kontraksi otot yan tedapat pada tubuhnya. Hewan ini ada yang hermfrodit (Memiliki 2 kelamin dalam satu tubuh) adapula yang genokhoris (1 kelamin 1 individu). Fertilisasinya terjadi di air laut yang kemudian akan berkembang menjadi larva aurekularia. Makannya adalah plankton atau zat organik di dalam laut. Ia melindungi diri dari mangsanya dengan memuntahkan organ dalam tubuhnya, sehingga mangsa tersebut akan memakan organ itu. Kemudian mentimun laut dapat membentuk kembali organ yang dimuntahkan tadi.

Karmana, Oman. 2007. Cerdas Belajar BIOLOGI. Bandung : GRAFINDO Media Pratama. Setiowati, Tetty. Deswati, Furqonita. 2007. BIOLOGI interaktif untuk SMA / MA. Jakarta : Azka Press.
Neil. A Champbell, dkk. 2003. BIOLOGI. Jakarta : Erlangga.
Aryulina, Diah, dkk. 2007. BIOLOGI 1 SMA dan MA kelas X. Jakarta : ESIS/Erlangga.


Nah itulah penjelasan kali ini tentang Echinodermata, semoga ilmunya dapat bermanfaat. Apabila masih ada hal yang belum dimengerti, silahkan ditanyakan di kotak komentar kami akan berusaha menjawabnya secara tepat dan tepat. Terimakasih telah berkunjung dan Jangan lupa likenya. 

Pengertian, Klasifikasi, Struktur Tubuh, dan Ciri Annelida

Selamat datang di softilmu, blog yang berbagi pengetahuan dengan penuh keikhlasan. Kali ini kami akan coba berbagi tentang Annelida, berberapa Topik utamanya adalah Pengertian Annelida, Struktur Annelida, Sistem Organ Annelida, Cara Hidup Annelida, Ciri – Ciri Annelida, Dan Klasifikasi Anneldia. Langsung Saja ya.

A. PENGERTIAN ANNELIDA
Secara Bahasa Annelida adalah hewan yang bentuk tubuhnya seperti susunan cincin. Kata Annelida berasal dari bahasa yunani, yaitu dari kata annulus yang berarti cincin, dan oidos yang artinya bentuk. Annelida memiliki rongga tubuh sejati dan tubuhnya berbentuk seperti segmen, serta bernapas melalui kulit. Sampai sekarang terdapat sekitar 15.000, dengan panjang tubuh dari 1 mm – 3 m. Filum Annelida dapat hidup di laut, air tawar, dan juga di tanah.

B. STRUKTUR TUBUH ANNELIDA
SUMBER GAMBAR KLIK DISINI
Bagian tubuh annelida berupa segmen – segmen. Antara satu segmen dengan segmen lainnya terdapat sekat yang disebut septa. Pembuluh darah, pembuluh saraf, dan sistem eksresi terhubung menembus septa antara satu segmen dengan segmen lainnya. Rongga Tubuh annelida berisi cairan yang berfungsi dalam pergerakan hewan ini, kontraksi otot juga sangat mempengaruhi pergerakannya. Tubuhnya berbentuk simetri bilateral, yaitu bagian tubuh yang satu berdampingan dengan bagian tubuh yang lain, dan apabila ditarik garis yang memotong dari depan ke belakang maka akan didapatkan potongan yang sama. Lapisan Luar tubuh annelida memiliki kutikula (lapisan pelindung). Pada lapisan luar annelida juga terdapat sel sensoris yang berfungsi untuk menerima rangsang. Tubuh annelida juga memiliki lapisan otot, yang terdiri dari otot sirkuler (spiral rapat) dan Otot Longitudinal (spiral panjang). Ketika Otot Sirkuler Berkontraksi maka segmen akan menjadi lebih tipis dan memanjang, sedangkan ketika otot longitudinal berkontraksi segmen akan menebal dan memendek.

C. SISTEM ORGAN ANNELIDA
Sistem Peredaran Darah, Annelida memiliki Sistem Peredaran darah tertutup yang memiliki pembuluh darah dengan hemoglobin di dalamnya sehingga darahnya berwarna merah. Fungsi Pembuluh darah menghantarkan nutrisi dan oksigen ke seluruh tubuh, pada bagian kulitnya terdapat sangat banyak pembuluh darah kecil, karena hewan ini bernafas melalui kulit.
Sistem Pernafasan Annelida dapat berlangsung melalui seluruh permukaan tubuhnya yaitu kulit, namun ada sumber yang mengatakan bahwa adapula spesies yang dapat melalui insang.
Sistem Persarafan, Annelida memiliki sistem persarafan yang disebut dengan sistem saraf tangga tali. Merupakan sistem saraf yang terdiri dari ganglia otak di depan tubuh dekat dengan faring, dan tali saraf yang menembus segmen tubuh.
Sistem Reproduksi Annelida umumnya berlangsung secara seksual, Satu Annelida memiliki dua alat kelamin yaitu alat reproduksi jantan dan betina (Hermafrodit), meskipun demikian, reproduksi seceara seksual tetap membutuhkan dua individu yang akan mengatur dirinya sedemikian rupa sehingga dapat mempertukarkan sperma. Setelah itu hasil reproduksi tadi akan disimpan dalam suatu organ khusus yang disebut klitelum. Apabila telah siap, hasil ini akan lepas dari kepala cacing, tinggal dan berkembang di dalam tanah. Beberapa Annelida juga dapat bereproduksi secara aseksual dengan cara fregmentasi diikuti dengan regenerasi.
Sistem Pencernaan pada Annelida sudah lengkap. Organ pencernaannya terdiri dari mulut, faring, esofagus, usus, dan anus.
Sistem Eksresi Annelida dilakukan oleh organ eksresi, yaitu nefridia (organ eksresi yang merupakan saluran), nefrostom (Corong bersilia dalam tubuh), dan nefrotor (Pori tubuh tempat kotoran keluar). Setiap Segmen memiliki organ eksresinya masing-masing.

D. CARA HIDUP
Sebagian besar Annelida hidup bebas namun adapula yang hidup parasit menempel dan bergantung pada inangnya. Kebanyakan Annelida hidup diperaian laut dan air tawar, sebagian lainnya hidup ditanah dan tempat yang lembab. Ketika hidup ditanah, hewan ini akan membuat liang untuk tempat hidupnya.   

E. CIRI CIRI ANNELIDA
  • Tubuhnya bilateral, bersegmen (berbentuk seperti susunan cincin) , dan antara segmen terdapat septa
  • Memiliki Saluran pencernaan makanan lengkap, dengan mulut di depan dan anus di belakang
  • Bernapas dengan kulit atau insang
  • Memiliki rongga tubuh
  • Mempunyai darah yang mengandung hemoglobin sehingga darahnya berwarna merah
  • Alat reproduksinya bersifat hermafrodit
  • Sistem Saraf Tangga Tali


F. KLASIFIKASI ANNELIDA
Terdapat sekitar 15.000 spesies Annelida, Berdasarkan banyak atau tidaknya rambut pada tubuhnya, Annelida diklasifikasikan menjadi tiga kelompok :

1. PolyChaeta
Kata PolyChaeta berasal dari 2 kata bahasa Yunani, yaitu Poli yang artinya banyak, dan Chaeta yang artinya Rambut. Jadi Kelas PolyChaeta ini merupakan yang memiliki rambut paling banyak dalam filum Annelida. Semua Species dalam kelas PolyChaeta hidup air. Setiap Segmen pada tubuh PolyChaeta memiliki struktur seperti daging berbentuk dayung yang disebut Parapodia (Tunggal = parapodium). Struktur ini berfungsi sebagai alat geraknya. Pada Sebagian besar PolyChaeta, Parapodia juga berfungsi sebagai insang karena terdapat pembuluh darah halus. Pada Setiap parapodium terdapat rambut halus bersifat kaku yang biasa disebut seta, rambut ini juga dilapisi oleh kutikula sehingga licin. Ukuran tubuh paling sering dijumpai pada kelas ini berkisar antara 5 – 10 cm. Bagian Tubuhnya terdiri atas kepala, mata, dan sensor palpus.

2. OligoChaeta
Kata OligoChaeta berasal dari 2 kata bahasa Yunani, yaitu Oligo yang artinya sedikit, dan Chaeta yang artinya rambut. Kelas OligoChaeta merupakan kelas filum Annelida yang memiliki sedikit rambut. Bayak Anggota OligoChaeta yang hidup di tanah atau tempat lembab, namun adapula yang hidup di air. Karena memiliki sedikit rambut (Seta) dan tidak memiliki Parapodia, maka kepalanya kecil, tidak mempunyai alat peraba, dan tidak mempunyai bintik mata. Pada lapisan kulit terdapat bagian saraf yang berfungsi untuk menerima rangsangan.

Cacing Tanah (Pheretima sp.) adalah spesies paling terkenal dibandingkan spesies lain pada kelas ini. Klitelium (Organ Reproduksi, mempunyai beberapa segmen, warnanya berbeda) pada kelas ini terdapat di segmen 32 – 37, sel telur diproduksi pada segmen 13, sedangkan sperma diproduksi pada segmen 10 dan 11.

3. Hirudenia
Hirudinea adalah kelas filum Annelida yang tidak memiliki seta (rambut) dan tidak memiliki parapodium di tubuhnya. Tubuh Hirudinea agak pipih dengan ujung depan dan belakang sedikit meruncing. Pada Segmen awal dan akhirnya terdapat alat penghisap yang berfungsi untuk bergerak dan menempel. Kombinasi dari alat penghisap dan kontraksi serta relaksasi otot merupakan mekanisme pergerakan dri Hirudinea. Sebagian Besar Hirudinea merupakan ekstoparasit yang banyak dijumpai pada permukan luar inangnya. Ukuran Hidudinea bervariasi antara 1 – 30 cm.

Hirudinea hidup pada inangnyauntuk menghisap darah dengan cara menempel. Beberapa dari mereka membuat luka pada permukaan tubuh inang sehingga dapat menghisap darahnya, sedangkan berberapa lainnya mensekresikan suatu enzim yang dapat melubangi kulit, setelah berhasil membuat lubang ia akan mensekresikan zat anti pembeku darah, kebanyakan tidak terasa saat kelas ini menempel pada inangnya karena ia menghasilkan suatu zat anastesi yang dapat menghilangkan rasa sakit. Dalam bahasa sehari- hari Kelas ini kita kenal dengan sebutan Lintah.

DAFTAR PUSTAKA :
Karmana, Oman. 2007. Cerdas Belajar BIOLOGI. Bandung : GRAFINDO Media Pratama.
Abdurahman, Denden. 2008. BIOLOGI Kelompok Pertanian dan Kesehatan Kelas X SMK. Bandung : Grafindo Media Pratama.
Susilowarno, R. Gunawan. 2009. Siap Menghadapi UN SMA 2010 BIOLOGI. Jakarta : Grasindo.
Neil. A Champbell, dkk. 2003. BIOLOGI. Jakarta : Erlangga.
Aryulina, Diah, dkk. 2007. BIOLOGI 2 SMA dan MA kelas X. Jakarta : ESIS/Erlangga.


Nah itulah pembahasan kali ini, semoga dapat bermanfaat ilmunya. Apabila masih ada hal yang belum dimengerti silahkan ditanyakan pada kolom komentar, kami akan berusaha untuk menjawab dengan tepat dan cepat. Terimakasih telah berkunjung dan jangan lupa likenya ya. 

Alat Reproduksi Pria dan Fungsinya

Selamat datang di softilmu, blog pengetahuan yang berbagi dengan penuh keikhlasan. Kali ini kami akan berbagi tentang Alat Reproduksi Pria dan Fungsinya. 2 topik utamanya adalah Alat Reproduksi (Genetalia) Pria Luar dan Alat Reproduksi (Genetalia) Pria dalam. Langsung saja ya.

Alat Reproduksi Pria adalah Organ – Organ pada pria yang berperan dalam sistem reproduksi dengan tujuan berkembangbiak atau memperbanyak keturunan. Agar mampu menjalankan prosesnya dengan baik, maka keadaan fungsi dan struktur alat kelamin ini harus dalam keadaan normal. Secara Garis besar, Alat Kelamin Pria dibagi kedalam 2 kelompok, yaitu :

1. ALAT REPRODUKSI (GENETALIA) LUAR
Penis (zakar) adalah alat kelamin luar pada pria. Penis berfungsi untuk memasukkan sperma ke dalam alat kelamin wanita melalui pertemuan keduanya (Kopulasi). Penis merupakan organ yang tersusun atas otot yang dapat tegang dan dilapisi oleh lapisan kulit tipis. Proses tegangnya penis disebut Ereksi, hal ini dikarenakan adanya rangsangan yang membuat pembuluh darah pada penis terisi. Setelah di sunat (khitan) kulit tipis (preputium) yang melapisi glan penis akan dipotong.
Penis Juga memiliki fungsi untuk ejakulasi, yaitu mengeluarkan sperma melalui uretra (saluran dalam penis), selama ejakulasi otot-otot pada kandung kemih akan mengkerut, untuk mencegah sperma masuk ke kandung kemih, oleh karena itu kita tidak bisa kencing sambil ejakulasi. Penis terdiri atas beberapa bagian yaitu :
  • Glan Penis, bagian kepala yang apabila telah dikhitan tidak dilapisi kulit
  • Batang (corpus) Penis
  • Pangkal Penis

2. ALAT REPRODUKSI (GENETALIA) PRIA DALAM
SUMBER GAMBAR KLIK DISINI
a. Testis
Testis adalah organ kelamin dalam pria berbentuk oval yang terletak di dalam skrotum. Testis berjumlah sepasang dan berfungsi untuk menghasilkan sel kelamin jantan (spermatozoa) dan hormon seks testosteron. Testis terletak di dalam skrotum yang merupakan organ berugae (memiliki lipatan kulit), berfungsu untuk menjaga suhu testis agar spermatogenesis dapat tetap berlangsung. Jika Suhu rendah (dingin) maka skrotum akan berkerut dan mendekat ke arah tubuh, sedangkan jika suhu tinggi, maka skrotum akan mengendur, menjauh dari tubuh.
Tempat pembentukan sperma dalam testis adalah tubulus seminiferus. Kemudian terdapat pintalan-pintalan tubulus seminiferus yang terdapat di dalam ruang testis yang disebut lobulus testis, satu testis umumnya mengandung sekitar 250 lobulus testis.

b. Epididimis
Epididimis adalah organ kelamin dalam pria berbentuk saluran berkelok – kelok yang terletak di dalam skrotum, diluar testis. Epididimis berbentuk seperti huruf C. Epididimis berfungsi dalam pengangkutan, penyimpanan, dan pematangan sperma. Sebelum memasuki epididimis, sperma tidak memiliki kemampuan untuk bergerak dan belum subur, namun setelah epididimis menjalankan fungsinya, sperma sudah subur dan mampu bergerak walaupun belum sempurna. Setelah dari epididimis sperma akan masuk ke vas (duktus) deferens, lalu disalurkan menuju vesikula seminalis.

c. Vas (duktus) Deferens
Vas Deferens adalah saluran berbentuk tabung yang berfungsi untuk menyalurkan sperma ke vesikula seminalis dan sebagai tempat penampungan sperma. Dalam proses pematangan dan penyimpanan sperma, duktus deferens ini mendorong sperma dengan gerak peristaltik lambat menuju vesikula seminalis. Sedangkan saat ejakulasi, gerakan yang dilakukan cepat dan kuat sehingga sperma yang keluar dapat muncrat.

d. Kelenjar Kelamin
Kelenjar kelamin adalah organ – organ kelamin dalam pria yang berfungsi untuk menghasilkan cairan tempat berenangnya sperma, dan cairan ini akan menjaga sperma tetap hidup dengan cara menetralisir asam, karena cairan itu bersifat basa. Dalam bahasa sehari – hari cairan ini kita kenal dengan air mani, sedangkan dalam bahasa ilmiah dikenal dengan nama semen. Dalam 1 ml air mani, terdapat sekitar 60 – 100 juta sel sperma. Normalnya semen memiliki pH 7,2 dengan volume 3-5 ml, dan berwarna putih susu sampai kekuning – kuningan serta sedikit kental. Berikut adalah organ yang termasuk ke dalam kelenjar kelamin :
  • Vesikula Seminalis (Kantung air mani), yaitu organ berupa saluran berbentuk tabung berjumlah sepasang di kanan dan kiri tubuh. Vesikula Seminalis memiliki panjang sekitar 5 – 10 cm. Vesikula Seminalis berfungsi untuk mensekresikan cairan bersifat basa y (pH 7,3) mukus, vitamin, fruktosa (sebagai nutrisi bagi sperma), protein, enzim, dan prostaglandin. Cairan dari vesikula seminalis ini merupakan 60% dari seluruh volume semen. Vesikula Seminalis akan menyatu dengan vas deferens dan kelenjar prostat untuk membentuk saluran ejakulasi.
  • Kelenjar Prostat, yaitu organ yang berada di bawah kandung kemih yang berfungsi untuk mensekresikan cairan berwarna putih keabu-abuan yang bersifat basa. Cairan ini disekresikan ke dalam saluran ejakulasi dan menyumbangkan sekitar 30% dari seluruh volume semen. Cairan kelenjar prostat akan bersatu dengan cairan dari vesikula seminalis dan akan menjadi tempat hidup dan bergeraknya sperma. Cairan yang disekresikan organ ini terdiri atas fosfolipid, asam sitrat (untuk nutrisi) dan juga antikoagulan.
  • Kelenjar Bulbouretra (Cowpery), yaitu kelenjar berjumlah sepasang yang berfungsi untuk menghasilkan cairan lendir bersifat basa ke dalam saluran ejakulasi. Kelenjar ini terletak di bawah kelenjar prostat. Cairan yang dihasilkan oleh kelenjar Bulbouretra ini keluar sebelum ejakulasi, dan dalam agama islam disebut mazi yang merupakan najis dan cara mensucikannya sama seperti mencucui kencing.

e. Uretra (Saluran Ejakulasi)
Uretra adalah saluran yang terletak di dalam penis, berfungsi untuk tempat keluarnya sperma dan juga sebagai tempat keluarnya urin.

DAFTAR PUSTAKA :
Aryulina, Diah, dkk. 2008. BIOLOGI 2 untuk SMA / MA kelas XI. ESIS/Erlangga.
Furqonita, Deswati. 2007. Seri IPA BIOLOGI SMP kelas IX. Jakarta : Yudhistira Ghalia Indonesia. Tim Matriks Media Literata. Si Teman : BIOLOGI SMP Kelas IX. Jakarta : Grasindo

Nah itulah penjelasan singkat kali ini tentang Alat Reproduksi Pria dan Fungsinya, semoga ilmunya dapat bermanfaat. Apabila masih ada yang membingungkan tentang penjelasan topik kali ini, silahkan isikan pertanyaannya di kotak komentar, kami akan berusaha untuk menjawabnya dengan tepat. Terimakasih telah berkunjung, jangan lupa likenya. J


Alat Reproduksi Wanita dan Fungsinya

Selamat datang di softilmu, blog pengetahuan sederhana yang berbagi ilmu tentang berbagai hal. Kali ini kami akan coba membahas tentang Alat Reproduksi Wanita dan Fungsinya, semoga ilmunya dapat bermanfaat, langsung saja ya...
Alat Reproduksi wanita adalah organ – organ yang berperan dalam serangkaian proses yang bertujuan untuk berkembangbiak atau memperbanyak keturunan. Agar manusia dapat memiliki anak, maka harus memiliki organ – organ reproduksi dengan fungsi dan dalam keadaan normal. Secara garis besar alat reproduksi wanita terbagi kedalam dua kelompok, yaitu Alat Reproduksi (Genetalia) luar dan Alat Reproduksi (Genetalia) dalam.

1. ALAT REPRODUKSI (GENETALIA) LUAR
SUMBER GAMBAR KLIK DISINI
a. Mons Veneris
Mons veneris adalah bagian yang sedikit menonjol dan bagian yang menutupi tulang kemaluan (simfisis pubis). Bagian ini disusun oleh jaringan lemak dengan sedikit jaringan ikat. Mons Veneris juga sering dikenal dengan nama gunung venus, ketika dewasa bagian mons veneris akan ditutupi oleh rambut – rambut kemaluan dan membentuk pola seperti segitiga terbalik.

b. Labia Mayora (Bibir Besar Kemaluan)
Seperti namanya, Bagian ini berbentuk seperti bibir. Labia Mayora merupakan bagian lanjutan dari mons veneris yang berbentuk lonjok, menuju ke bawah dan bersatu membentuk perineum. Bagian Luar dari Labia Mayor disusun oleh jaringan lemak, kelenjar keringat, dan saat dewasa biasanya ditutupi oleh rambut – rambut kemaluan yang merupakan rambut dari mons veneris. Sedangkan selaput lemak yang tidak berambut, namun memiliki banyak ujung – ujung saraf sehingga sensitif saat melakukan hubungan seksual.

c. Labia Minora (Bibir Kecil Kemaluan)
Labia Minora merupakan organ berbentuk lipatan yang terdapat di dalam Labia Mayora. Alat ini tidak memiliki rambut, tersusun atas jaringan lemak, dan memiliki banyak pembuluh darah sehingga dapat membesar saat gairah seks bertambah. Bibir Kecil Kemaluan ini mengelilingi Orifisium Vagina (lubang Kemaluan). Labia Minora analog dengan Kulit Skrotum pada Alat Reproduksi Pria.

d. Klitoris
Klitoris adalah organ bersifat erektil yang sangat sensitif terhadap rangsangan saat hubungan seksual. Klitoris memiliki banyak pembuluh darah dan terdapat banyak ujung saraf padanya, oleh karena itu Organ ini sangat sensitif dan bersifat erektil. Klitoris Analog dengan Penis pada Alat Reproduksi Pria.

e. Vestibulum
Vestibulum adalah rongga pada kemaluan yang dibatasi oleh labia minora pada sisi kiri dan kanan, dibatasi oleh klitoris pada bagian atas, dan dibatasi oleh pertemuan dua labia minora pada bagian belakang (bawah) nya.
  • Vestibulum merupakan tempat bermuaranya :
  • Uretra (saluran kencing)
  • Muara Vagina (liang Senggama)

Masing – Masing Dua Lubang Saluran Kelenjar Bartholini dan Skene (Kelenjar ini mengeluarkan cairan seperti lendir saat pendahuluan hubungan untuk memudahkan masuknya penis)
f. Himen (Selaput Dara)
Himen merupakan selaput membran tipis yang menutupi lubang vagina. Himen ini mudah robek sehingga dapat dijadikan salah satu aspek untuk menilai keperawanan. Normalnya Himen memiliki satu lubang agak besar yang berbentuk seperti lingkaran. Himen merupakan tempat keluarnya cairan atau darah saat menstruasi. Saat Melakukan hubungan seks untuk pertama kalinya himen biasanya akan robek dan mengeluarkan darah. Setelah melahirkan hanya akan tertinggal sisa – sisa himen yang disebut caruncula Hymenalis (caruncula mirtiformis).

2. ALAT REPRODUKSI (GENETALIA) DALAM
SUMBER GAMBAR KLIK DISINI
a. Vagina
Vagina adalah muskulo membranasea (Otot-Selaput) yang menghubungkan rahim dengan dunia luar. Vagina memiliki panjang sekitar 8 – 10 cm, terletak antara kandung kemih dan rektum, memiliki dinding yang berlipat – lipat, lapisan terluarnya merupakan selaput lendir, lapisan tengahnya tersusun atas otot-otot, dan lapisan paling dalam berupa jaringan ikat yang berserat. Vagina berfungsi sebagai jalan lahir, sebagai sarana dalam hubungan seksual dan sebagai saluran untuk mengalirkan darah dan lendir saat menstruasi.
Otot pada vagina merupakan otot yang berasal dari sphingter ani dan levator ani (Otot anus/dubur), sehingga otot ini dapat dikendalikan dan dilatih. Vagina tidak mempunyai kelenjar yang dapat menghasilkan cairan, tetapi cairan yang selalu membasahinya berasal dari kelenjar yang terdapat pada rahim.

b. Uterus (Rahim)
Uterus adalah organ berongga yang berbentuk seperti buah pir dengan berat sekitar 30 gram, dan tersusun atas lapisan – lapisan otot. Ruang pada rahim (Uterus) ini berbentuk segitiga dengan bagian atas yang lebih lebar. Fungsinya adalah sebagai tempat tumbuh dan berkembangnya janin. Otot pada uterus bersifat elastis sehingga dapat menyesuaikan dan menjaga janin ketika proses kehamilan selama 9 bulan.
Pada bagian uterus terdapat Endometrium ( dinding rahim) yang terdiri dari sel –sel epitel dan membatasi uterus. Lapisan endometrium ini akan menebal pada saat ovulasi dan akan meluruh pada saat menstruasi. Untuk mempertahankan posisinya uterus disangga oleh ligamentum dan jaringan ikat.
Uterus memiliki beberapa bagian :
  • Korpus Uteri, yaitu bagian yang berbentuk seperti segitiga pada bagian atas
  • Serviks uteri, yaitu bagian yang berbentuk seperti silinder
  • Fundus Uteri, yaitu bagian korpus yang terletak di atas kedua pangkal tuba fallopi

Pada saat persalinan, rahim merupakan jalan lahir yang penting karena ototnya mampu mendorong janin untuk keluar, serta otot uterus dapat menutupi pembuluh darah untuk mencegah terjadinya perdarahan pasca persalinan. Setelah proses persalinan, rahim akan kembali ke bentuk semula dalam waktu sekitar 6 minggu.

c. Tuba Fallopi (Oviduk)
Tuba Fallopi (Oviduk) adalah organ yang menghubungkan Uterus (Rahim) dengan Indung Telur (Ovarium). Tuba Fallopi (Oviduk) juga sering disebut saluran telur karena bentuknya seperti saluran. Organ ini berjumlah dua buah dengan panjang 8 – 20 cm. Tuba Fallopi berfungsi untuk :
  • Sebagai saluran spermatozoa dan ovum
  • Penangkap ovum
  • Bisa menjadi tempat pembuahan (fertilisasi)
  • Sebagai tempat pertumbuhan hasil pembuahan sebelum mampu masuk ke bagian dalam Uterus (Rahim).

Tuba Fallopi (Oviduk)  terdiri atas 4 bagian :
  1. Infundibulum, yaitu bagian berbentuk seperti corong yang terletak di pangkal dan memiliki Fimbriae. Fimbriae berfungsi untuk menangkap ovum
  2. Pars ampularis, yaitu bagian agak lebar yang merupakan tempat bertemunya ovum dengan sperma (Pembuahan/fertilisasi)
  3. Pars Ismika, yaitu bagian tengah tuba yang sempit
  4. Pars Interstitialis, yaitu bagian tuba yang letaknya dekat dengan uterus.

d. Ovarium (Indung Telur)
Ovarium adalah kelenjar reproduksi utama pada wanita yang berfungsi untuk menghasilkan ovum (Sel telur) dan penghasil hormon seks utama. Ovarium berbentuk oval, dengan panjang 2,5 – 4 cm.  Terdapat sepasang Ovarium yang terletak di kanan dan kiri, dan dihubungkan dengan rahim oleh tuba fallopi. Umumnya setiap Ovarium pada wanita yang telah pubertas memiliki 300.000-an, dan sebagian besar sel telus ini mengalami kegagalan pematangan, rusak atau mati, sehingga benih sehat yang ada sekitar 300 - 400-an benih telur dan 1 ovum dikeluarkan setiap 28 hari oleh ovarium kiri dan kanan secara bergantian melalui proses menstruasi, sehingga saat benih telur habis, terjadilah menopause . Ovarium juga menghasilkan hormon estrogen dan progesteron yang berperan dalam proses Menstruasi.

DAFTAR PUSTAKA :
Bagus Gde Manuaba, Ida. 1998. Panyakit Kandungan dan Keluarga berencana untuk pendidikan bidang. Jakarta : EGC
Ayu Chandranida Manuaba, Ida, dkk. 2009. Memahami reproduksi wanita. Jakarta : EGC
Aryulina, Diah,dkk. 2008. BIOLOGI 2 SMP kelas XI. ESIS/Erlangga.
Furqonita, Deswati. 2007. Seri IPA BIOLOGI SMP kelas IX. Jakarta : Yudhistira Ghalia Indonesia.

Nah itulah artikel kami tentang Alat Reproduksi Wanita dan Fungsinya, semoga dapat bermanfaat ilmunya. Jika masih ada sesuatu yang membingungkan tentang topik artikel ini, silahkan menanyakannya pada kota komentar, kami akan berusaha menjawab atau membalasnya dengan cepat dan tepat. Terimakasih telah berkunjung jangan lupa likenya. J


Sistem Saraf Tepi (Saraf Kranial dan Saraf Otonom)

Baiklah sobat, kali ini kita akan membahas mengenai Sistem Saraf Tepi (Saraf Kranial dan Saraf Otonom). Sistem saraf tepi terdiri atas sistem saraf sadar (saraf kranial) dan sistem saraf tak sadar (sistem saraf otonom)

1. Sistem Saraf Sadar (Saraf Kranial)

Sistem saraf sadar adalah saraf yang mengatur gerakan yang dilakukan secara sadar, di bawah kendali kesadaran kita, contohnya tangan kita sadar bergerak untuk mengambil gelas.

Sistem saraf sadar (kraniospinal) meliputi sistem saraf kepala (kranial) dan sistem saraf tulang belakang (spinal). Sistem saraf kepala disusu oleh 12 pasang saraf yang keluar dari otak. Saraf kepala terutama berhubungan dengan reseptor dan efektor untuk daerah kepala. Dua belas saraf tersebut meliputi:
  1. Tiga pasang saraf sensori, yaitu nomor I, II, dan VIII
  2. Lima pasang saraf motor, yaitu saraf III, IV, VI, XI, dan XII
  3. Empat pasang saraf gabungan sensori dan motor, yaitu saraf nomor V, VII, IX, dan X


No. Saraf
Nama Saraf
Jenis Saraf
Dari Saraf Sensori
Dari Saraf Motor
I
Olfaktori
Sensori
Selaput lendir hidung
Tidak ada
II
Optik
Sensori
Retina mata
Tidak ada
III
Okulomotor
Motor
Otot penggerak bola mata
Otot penggerak bola mata, lensa mata, pupil mata
IV
Troklear/patenik
Motor
Otot penggerak bola mata
Otot lain penggerak bola mata
V
Trigeminal
Gabungan
Gigi dan kulit muka
Otot pengunyah
VI
Abdusen
Motor
Otot penggerak bola mata
Otot lain penggerak bola mata
VII
Fasial
Gabungan
Lidah bagian ujung
Otot muka, kelenjar ludah
VIII
Auditori (vestibulokoklear)
Sensori
Koklea dan saluran setengah lingkaran
Tidak ada
IX
Glossofaringeal
Gabungan
Lidah bagian belakang tonil
Kelenjar ludah, otot penelan di faring
X
Vagus
Gabungan
Laring, paru-paru, jantung, lambung, pankreas, hati
Saraf simpatetik ke laring, esofagus, paru-paru, jantung, lambung, dan pankreas
XI
Spinal (aksesori)
Motor
Otot di belikat, laring, faring, dan langit-langit halus
Otot laring, faring, dan langit-langit halus
XII
Hipoglosal
Motor
Otot lidah
Otot lidah

Saraf kranial dan letaknya
(http://media-1.web.britannica.com/eb-media/44/54244-004-892C5169.jpg)

Sistem saraf spinal disusun oleh 31 pasang saraf yang keluar dari sumsum tulang belakang. Saraf tulang punggung melayani reseptor dan efektor lain (selain reseptor dan efektor yang disarafi oleh otak) [baca : Sistem Saraf Pusat (Otak dan Sumsum Tulang Belakang)]. Berdasarkan asalnya, saraf tersebut dibedakan atas 8 pasang saraf leher, 12 pasang saraf punggung, 5 pasang saraf pinggang, 5 pasang saraf pinggul, dan 1 pasang saraf ekor [baca : Pengertian dan Jenis Sel Saraf (Neuron)].

Pada tubuh manusia dijumpai adanya pleksus (gabungan), yaitu beberapa urat saraf bersatu membentuk jaringan urat saraf. Ada 3 macam pleksus yaitu sebagai berikut:
  1. Pleksus servikalis, merupakan gabungan urat saraf leher yang memengaruhi bagian leher, bahu, dan diafragma.
  2. Pleksus brakialis, yaitu gabungan urat saraf lengan atas yang memengaruhi bagian tangan
  3. Pleksus lumbo sakralis, adalah gabungan urat saraf punggung dan pinggang yang memengaruhi bagian pinggul dan kaki.


2. Sistem Saraf tak Sadar (Saraf Otonom)

Bermacam-macam sistem saraf yang telah dibahas sebelumnya merupakan sistem saraf sadar [baca : Perbedaan Gerak Sadar dan Gerak Refleks]. Di samping sistem saraf sadar, kita memeliki sistem saraf tak sadar atau otonom, yang bekerja secara otomatis, tidak di bawah kehendak saraf pusat, contohnya adalah denyut jantung, gerak alat pencernaan, dan pengeluaran keringat. Sistem saraf ini terletak khusus di sumsum tulang belakang [baca : Perjalanan Impuls Saraf]. Susunan saraf otonom terdiri atas susunan saraf simpatetik dan saraf parasimpatetik. Perbedaan struktur antara saraf simpatetik dan parasimpatetik terletak pada posisi ganglion. Saraf simpatetik memiliki ganglion yang terletak di sepanjang tulang punggung yang menempel pada sumsum tulang belakang sehingga memiliki serabut preganglion pendek dan memiliki serabut postganglion yang panjang. Sebaliknya, saraf parasimpatetik memiliki serabut praganglion yang panjang karena ganglion menempel pada organ yang dibantu efektor dan memiliki serabut postganglion pendek. Serabut praganglion yang dimaksud adalah serabut saraf yang keluar dari ganglion.

a. Sistem saraf simpatetik

Sistem saraf simpatetik terletak di depan ruas tulang belakang dan berhubungan serta bersambung dengan sumsum tulang belakang melalui serabut saraf.

b. Sistem saraf parasimpatetik

susunan saraf parasimpatetik berupa jaringan susunan saraf yang berhubungan dengan ganglion-ganglion yang tersebar di seluruh tubuh. Fungsi susunan saraf parasimpatetik merupakan kebalikan dari fungsi saraf simpatetik.

Sistem saraf otonom
(http://i1226.photobucket.com/albums/ee405/UP70/ans.gif)

Bagian tubuh yang dipengaruhi
Saraf simpatetik
Saraf parasimpatetik
Iris (pupil)
Memperbesar pupil
Mengecilkan pupil
Bronkus
Memperbesar bronkus
Mengecilkan bronkus
Jantung
Mempercepat detak jantung
Memperlambat detak jantung
Arteri
Konstriksi (memperkecil diameter)
Dilatasi (memperbesar diameter)
Kandung kemih
Relaksasi kandung kemih
Kontraksi kandung kemih
Lambung
Menghambat kerja lambung
Memacu kerja lambung
Penis
Mengontrol ejakulasi
Merangsang ereksi

Referensi:
  • Syamsuri, Istamar. Biologi 2A untuk SMA. Jakarta : Erlangga


Inilah postingan mengenai Sistem Saraf Tepi (Saraf Kranial dan Saraf Otonom), semoga dapat bermanfaat bagi teman-teman semua. Arigatou gozaimasu J