Perbedaan Gerak Sadar dan Gerak Refleks


Baiklah sobat, kali ini kita akan membahas tentang Perbedaan Gerak Biasa dan Gerak Refleks.

Gerak adalah salah satu aktivitas tubuh yang menggambarkan penghantaran impuls oleh saraf [baca : Perjalanan Impuls Saraf]. Kadang kita melakukan gerakan yang disadari atau tidak kita sadari. Gerakan yang dilakukan dengan penuh kesadaran disebut sebagai gerak biasa atau gerak sadar. Adapun gerakan yang dilakukan tanpa kita sadari, misalnya berkedip atau bernapas, disebut gerak refleks. Sebenarnya gerak refleks merupakan sistem pertahanan tubuh dan prosesnya lebih cepat dibandingkan gerak sadar. [baca : Sistem Saraf Manusia]

Impuls pada gerak biasa melalui perjalanan yang berbeda dengan gerak refleks. Pada gerak biasa, impuls yang diterima oleh reseptor akan menjalar ke saraf sensori, selanjutnya dibawa ke otak untuk diolah. Hasil olahan di otak berupa tanggapan akan dibawa oleh saraf motor menuju ke efektor. [baca : Pengertian dan Jenis Sel Saraf]

Gerak refleks melalui jalan singkat, yaitu diawali dari reseptor sebagai penerima rangsang, kemudian dibawa oleh sel konektor ke pusat saraf. Impuls tersebut selanjutnya diterima oleh sel saraf konektor (interneuron) tanpa diolah oleh otak, kemudian tanggapan akan dikirim oleh saraf motor menuju ke efektor. Jalannya impuls pada satu kegiatan refleks disebut lengkung refleks. Berdasarkan letak saraf penghubungnya, gerak refleks dibedakan menjadi (1) refleks otak, dan (2) refleks sumsum tulang belakang. Disebut refleks otak jika apabila saraf konektornya (interneuron) terletak di dalam otak, misalnya refleks pupil mata yang membesar atau mengecil sebagai respons terhadap perubahan intensitas cahaya. Disebut refleks sumsum tulang belakang apabila saraf penghubungnya terletak di dalam sumsum tulang belakang, misalnya refleks pada lutut.

Perjalanan impuls hingga menghasilkan gerak refleks (https://adriautami.files.wordpress.com/2010/06/impuls0.jpg)

Baca juga untuk menambah pengetahuan teman-teman


Referensi:
  • Syamsuri, Istamar. Biologi 2A untuk SMA. Jakarta : Erlangga



Inilah postingan kali ini mengenai Perbedaan Gerak Biasa dengan Gerak Refleks. Semoga bermanfaat bagi teman teman semua. J

Perjalanan Impuls Saraf


Baiklah sobat, pada postingan kali ini kita akan membahas tentang Perjalanan Impuls Saraf

Impuls dapat dikatakan sebagai “aliran listrik” yang merambat pada serabut saraf. Jika sebuah serabut saraf tidak menghantarkan impuls, dikatakan bahwa serabut saraf tersebut dalam keadaan istirahat. Impuls dapat dihantarkan melalui sel saraf dan sinapsis.

Impuls melalui sel saraf

Impuls dapat mengalir melalui serabut saraf karena mempunyai perbedaan potensial listrik antara bagian luar dan bagian dalam serabut saraf [baca : Sistem Saraf Manusia]. Pada saat sel saraf istirahat, bagian dalam serabut saraf bermuatan negatif, kira-kira -60 mV, sedangkan bagian luarnya bermuatan positif. Keadaan muatan listrik tersebut diberi nama potensial istirahat, sedangkan membran serabut saraf dalam keadaan polarisasi.

Perubahan muatan dalam neuron selama penjalaran impuls (http://people.eku.edu/ritchisong/301images/Neuron_action_potential.jpg)

Jika sebuah impuls bergerak (merambat) melalui sebuah akson [baca : Pengertian dan Jenis Sel Saraf (Neuron)], dalam waktu singkat muatan di sebelah dalam impuls menjadi positif, kira-kira +60 mV, dan muatan sebelah luarnya akan menjadi negatif. Perubahan tiba-tiba pada potensial istirahat bersamaan dengan impuls disebut potensial kerja. Pada saat ini terjadi depolarisasi pada selaput membran akson. Proses depolarisasi merambat sepanjang serabut saraf bersamaan dengan merambatnya impuls. Akibatnya, muatan negatif di sebelah luar membran merambat sepanjang serabut saraf.


Mekanisme jalannya impuls melalui saraf (berbeda dengan gambar): (1) neuron istirahat (2) stimulus diberikan, menimbulkan impuls (3) impuls bergerak sebagai aliran listrik (4) stimulus kedua diberikan (5) kedua impuls yang berjarak tertentu berjalan sepanjang akson.

Apabila impuls telah lewat, maka sementara waktu serabut saraf tidak dapat dilalui oleh impuls karena terjadi potensial kerja menjadi potensial istirahat. Agar dapat berfungsi kembali, diperlukan waktu kira-kira 1/1000 sampai 1/500 detik untuk pemulihan.

Kecepatan impuls merambat berbeda-beda pada setiap spesies. Pada mamalia tertentu, rambatan impuls dapat mencapai 100 meter per detik, sedangkan pada hewan tingkat rendah mungkin hanya sekitar 0,5 meter per detik. Faktor yang mempengaruhi kecepatan rambatan ini adalah : (1) selaput mielin, dan (2) diameter serabut saraf. Pada serabut saraf yang mempunyai mielin, depolarisasi hanya terjadi pada nodus ranvier sehingga terjadi lompatan potensial kerja, sehingga impuls saraf akan merambat lebih cepat. Semakin besar diameter serabut saraf pun akan mempercepat rambatan impuls saraf [baca : Perbedaan Gerak Biasa dan Gerak Refleks].

Impuls melalui sinapsis

Sinapsis adalah titik temu antara ujung neurit (akson) dari satu neuron dengan ujung dendrit dari neuron lainnya. Setiap ujung neurit membengkak membentuk bonggol yang sidebut bonggol sinapsis (synaptic knob). Pada bonggol sinapsis terdapat mitokondria dan gelembung-gelembung sinapsis. Gelembung-gelembung sinapsis tersebut berisi zat kimia neurotransmitter yang berperan penting dalam merambatkan impuls saraf ke saraf lainnya. Ada berbagai macam neurotransmitter, antara lain asetilkolin yang terdapat pada sinapsis seluruh tubuh, noradrenalin yang terdapat pada sistem saraf simpatis, dan dopamin serta serotonin yang terdapat di otak. [Baca juga : Pengertian, Bagian Telinga dan Fungsinya]

Penjalaran impuls melalui sinapsis, terlihat gelembung sinapsis (vesicles) yang membawa neurotransimtter sedang melepaskan isisnya melalui celah sinapsis (http://antranik.org/wp-content/uploads/2012/04/synapse.jpg)

Antara ujung bonggol sinapsis dengan membran sel saraf berikutnya terdapat celah sinapsis yang dibatasi oleh membran prasinapsis (membran dari bonggol sinapsis) dan membran postsinapsis (membran dendrit dari sel saraf selanjutnya atau membran efektor). Apabila impuls saraf sampai pada bonggol sinapsis, maka gelembung-gelembung sinapsis akan mendekati membran prasinaps, kemudian melepaskan isinya, yaitu neurotransmitter, ke celah sinapsis. Impuls saraf bawa Liem neurotransmitter ini. Neurotransmitter menyeberang celah sinapsis menuju membran postsinapsis. Zat kimia neurotransmitter ini akan mengakibatkan terjadinya depolarisasi pada membran postsinapsis dan terjadilah potensial kerja. Ini berarti impuls telah diberikan ke serabut saraf berikutnya. Dengan demikian impuls saraf menyeberangi celah sinapsis dengan cara perpindahan zat-zat kimia, untuk kemudian dilanjutkan pada sel saraf berikutnya dengan cara rambatan potensial kerja.

Apabila neurotransimitter sudah melakukan tugasnya, maka ia akan diuraikan oleh enzim yang dihasilkan oleh membran postsinapsis. Misalnya apabila neurotransmitter berupa asetilkolin maka enzim yang akan menguraikannya adalah enzim asetilkolinesterase.

Referensi:
  • Syamsuri, Istamar. Biologi 2A untuk SMA. Jakarta : Erlangga.


Inilah postingan kali ini mengenai Perjalanan Impuls Saraf, semoga bermanfaat untuk teman semua. Arigatou gozaimasu J


Pengertian dan Jenis Sel Saraf (Neuron)

Baiklah sobat, kali ini kita akan membahas mengenai Pengertian dan Bagian Sel Saraf (Neuron). Seperti judul artikel kali ini sel saraf juga dikenal dengan sebutan neuron, jadi jangan bingung di saat nanti kami menggunakan istilah neuron pada pembahasan artikel ini.


Sistem saraf dibangun oleh jutaan bahkan triliunan sel saraf atau neuron. Sel saraf memiliki sifat unik yaitu peka terhadap rangsangan dan mampu menghantarkan rangsangan tersebut. Sebuah sel saraf memiliki satu badan sel yang memiliki sitoplasma dan nukleus atau inti sel.

Badan sel memiliki sebuah inti dan di dalam sitoplasmanya terdapat butir-butir Nissl. Butir-butir Nissl ini berfungsi untuk sintesis protein karena di dalam butir tersebut mengandung RNA. Badan sel ini hanya terdapat pada saraf pusat (otak dan sumsum tulang belakang) dan pada ganglion. Ganglion merupakan sekumpulan sel saraf yang terdapat di luar saraf pusat. Ciri khas lain dari sel saraf adalah terdapatnya neurofibril yang terletak di seluruh badan sel dan meluas hingga sampai dendrit dan neurit.


Sitoplasma sel neuron akan menonjol dari badan selnya dan dibedakan menjadi dua yaitu dendrit dan neurit (akson).


Dendrit merupakan tonjolan sitoplasma yang terletak pada badan sel, berfungsi untuk meneruskan impuls dari reseptor menuju ke badan sel. Dendrit berhubungan dengan reseptor atau dengan ujung-ujung akson dari neuron lain. Pada umumnya dendrit berupa serabut pendek, tetapi pada sel saraf sensori, dendrit berukuran panjang.

Baca juga : Perjalanan Impuls Saraf

Neurit (akson) adalah tonjolan sitoplasma yang panjang dan berfungsi menyalurkan impuls dari badan sel. Neurit dari beberapa sel saraf dibungkus oleh selaput mielin. Selaput mielin ini sebagian besar tersusun akan lemak. Neurit diibaratkan sebagai kabel listrik; kawat halus di dalamnya sebagai neurofibril dan pembungkusnya sebagai selaput mielin. Selaput mielin berfungsi untuk melindungi neurit dan memberi nutrisi. Selaput mielin merupakan kumpulan sel Schwann. Tidak semua bagian neurit diselubungi oleh selaput mielin. Pada tempat-tempat tertentu terdapat satu penyempitan melingkar (sirkuler) yang disebut nodus Ranvier (Node of Ranvier), sehingga serabut saraf tampak seperti berbuku-buku. Nodus Ranvier tersebut berfungsi untuk mempercepat penghantaran impuls. Selaput mielin tidak terbungkus sampai dukung-ujung saraf. Ujung neurit akan berhubungan dengan ujung dendrit dari sel saraf lainya atau dengan detektor yang berupa otot atau kelenjar. Pertemuan antara neurit dengan dendrit atau detektor tersebut menimbulkan sebuah bentukan bonggol yang membentuk celah yang disebut dengan sinapsis.

Sel saraf atau neuron terdiri dari bagian-bagian berikut.
  • Badan sel yang memiliki inti, sitoplasma, serta butir Nissl,
  • Tonjolan sitoplasma, yaitu dendrit dan neurit,
  • Dendrit, yang menghantarkan impuls dari luar ke dalam badan sel,
  • Neurit, yang menghantarkan impuls dari badan sel ke luar,
  • Neurit terdiri atas neurofibril yang dibungkus selaput mielin,
  • Selaput mielin mengandung sel-sel Schwann,
  • Nodus Ranvier, yaitu penyempitan selubung mielin,
  • Pertemuan akson dengan dendrit atau efektor yang membentuk sinapsis.
Macam-macam Sel Saraf

1. Sel Saraf Sensori (Neuron Sensori)

Sel saraf sensori a.k.a sel saraf indra adalah sel saraf yang berfungsi untuk menghantarkan impuls saraf dari alat indra menuju otak atau sumsum tulang belakang. Dendritnya berhubungan dengan indra untuk menerima rangsangan, sedangkan neuritnya berhubungan dengan sel saraf lainnya.

2. Sel Saraf Motorik (Neuron Motor)

Sel saraf fungsinya kebalikan dari sel saraf sensori, yaitu menyampaikan perintah yang diberikan oleh otak atau sumsum tulang belakang menuju ke otot atau kelenjar tubuh. Sel saraf ini disebut sebagai sel saraf penggerak. Dendritnya berhubungan dengan neurit dari sel saraf lain, sedangkan neuritnya berhubungan dengan efektor. Efektor biasanya adalah otot atau kelenjar tubuh.


3. Sel Saraf Konektor


Neuron konektor atau interneuron adalah sel saraf berkutub banyak (multipolar) yang memiliki banyak dendrit dan akson. Fungsi sel saraf ini untuk meneruskan rangsangan dari sel saraf sensorik ke sel saraf motorik. Sel saraf ini dikenal pula dengan istilah sel saraf penghubung. Ujung dendrit sel saraf yang satu berhubungan dengan ujung neurit sel saraf yang lain. Pada pertemuan ujung neurit dengan sel saraf berikutnya terdapat celah sempit yang disebut sinapsis. Pada tempat tertentu, badan sel saraf berkumpul membentuk simpul saraf yang disebut ganglion.

Struktur Neuron di otak dan Sinapsis ditampilkan (http://www.heartspring.net/images/brain_cell_neurons.jpg)

Inilah artikel kami kali ini mengenai Pengertian dan Jenis Sel Saraf (Neuron), semoga bermanfaat bagi pembaca dan jangan lupa tinggalkan komentar di bawah. Arigatou gozaimasu

Pengertian, Bagian Bagian Telinga dan Fungsinya

Selamat datang di softilmu, blog yang berbagi pengetahuan dengan penuh keikhlasan. Kali ini kami akan berbagi tentang Pengertian Telinga, Fungsi Telinga, Bagian – bagian telinga dan fungsinya, serta Proses singkat seseorang dapat mendengar. Langsung saja ya...

A. PENGERTIAN TELINGA
Telinga adalah Organ tubuh manusia yang berfungsi sebagai indra pendengaran dan organ yang menjaga keseimbangan. Telinga merupakan organ yang berperan terhadap pendengaran kita akan suara atau bunyi, hal ini dapat terjadi karena telinga memiliki reseptor khusus yang berfungsi untuk mengenali getaran suara. Namun Telinga memiliki batasan frekuensi suara yang dapat didengar, yaitu yang frekuensinya 20 Hz – 20.000 Hz.
SUMBER GAMBAR KLIK DISINI
B. FUNGSI TELINGA
  • Telinga Sebagai Pengatur Keseimbangan, Terdapat struktur khusus pada organ telinga yang berfungsi mengatur dan menjaga keseimbangan tubuh. Organ ini berhubungan dengan saraf otak ke VIII yang berfungsi dalam menjaga keseimbangan dan untuk mendengar.
  • Telinga Sebagai Indera Pendengaran, Telinga dapat berfungsi sebagai indera pendengaran apabila terdapat gelombang suara yang masuk melalui telinga luar yang akan diterima oleh otak melalui proses terjadinya pendengaran yang akan kami jelaskan dibawah.

C. BAGIAN – BAGIAN TELINGA DAN FUNGSINYA
Secara luas telinga di bagi menjadi 3 bagian besar, yaitu Telinga Luar, Telinga Tengah, dan Telinga dalam. Masing – masing bagian tersebut memiliki fungsi spesifik terhadap tugasnya masing – masing. Berikut penjelasan untuk bagian – bagian telinga tersebut :

1. Telinga Luar
Telinga bagian luar terdiri atas daun telinga (aurikula), saluran telingan luar (analis auditoris eksternal), dan gendang telinga (Membran Timpani) yang membatasinya dengan telinga dalam.
Daun Telinga terbentuk oleh susunan tulang rawan yang memiliki bentuk khas untuk mendukung fungsinya, yaitu untuk memusatkan gelombang suara yang masuk ke saluran telinga.
Saluran Telinga Luar, dalam bagian ini terdapat kelenjar sudorifera yaitu kelenjar yang dapat menghasilkan serumen (bahan mirip lilin yang dapat mengeras). Serumen ini menjaga telinga agar tidak banyak kotoran dari luar yang masuk ke dalam, juga dapat menghindari masuknya serangga karena memiliki bau tidak sedap.
Membran Timpani adalah bagian yang berfungsi untuk menangkap gelombang suara.
SUMBER GAMBAR KLIK DISINI
2. Telinga Tengah
Telinga tengah merupakan rongga yang berisi udara dan menjaga tekanan udara tetap seimbang. Dinding dari bagian ini dilapisi oleh sel epite. Fungsi Utamanya adalah untuk meneruskan Suara yang diterima dari Telinga Luar ke Telinga Bagian Dalam. Pada telinga bagian tengah terdapat Tuba Eustachius, yaitu bagian yang menghubungkan telinga dengan rongga mulut (faring). Tuba Eustachius Ini berfungsi untuk menyeimbangkan tekanan udara antara telinga bagian luar dengan telinga bagian tengah.

Telinga bagian tengah terdiri atas 3 tulang pendengaran utama yaitu Maleus(Martil), Incus(Landasan), dan Stapes(sanggurdi), Tulang – Tulang ini saling berhubungan satu sama lain (dihubungkan oleh sendi) karena adanya sendi maka tulang – tulang ini dapat bergerak. Rangkaian 3 Tulang yang sedemikian rupa ini berfungsi untuk mengirimkan getaran yang diterima dari membran timpani pada telinga luar menuju ke Jendela Oval Telinga Dalam.  Tuba Eustachius ini selalu menutup kecual saat menelan dan menganga. Oleh karena itu saat kita dalam ketinggian tertentu, apabila telinga berdengung, kita dianjurkan untuk menelan, karena menelan dapat membuka tuba eustachius yang akan menyeimbangkan kembali tekanan udara.
SUMBER GAMBAR KLIK DISINI
3. Telinga Dalam
Telinga Dalam terdiri atas bagian tulang dan bagian membran. Telinga dalam disebut juga sebagai labirin karena bentuknya. Labirin tulang (Labirin Osea) merupakan rongga yang terbentuk pada tonjolan tulang pelipis yang berisikan cairan perilimfe. Labirin Membran terletak pada bagian yang sama dengan bagian labirin tulang, namun tempatnya lebih dalam dan dilapisi oleh sel epitel serta berisi cairan endolimfe.
SUMBER GAMBAR KLIK DISINI
Labirin Tulang telinga dalam terbagi menjadi 3 bagian, yaitu :
  • Koklea (Fungsinya lebih ke pendengaran)
  • Vestibuli (Fungsinya lebih ke menjaga keseimbangan)
  • Kanalis Semisirkularis (Fungsinya lebih ke menjaga keseimbangan)  


1. Koklea (Rumah Siput)
Koklea berbentuk seperti tabung bengkok ke belakang lalu berlilit mengelilingi tulang dan membentuk seperti kerucut di ujungnya. Koklea berfungsi sebagai reseptor karena memiliki sel – sel saraf di dalamnya. Dalam Tabung Koklea terdapat bagian yang dibentuk oleh tulang dan membran koklea, bagian ini disebut Membran Basilaris. Membran Basilaris berfungsi memisahkan koklea menjadi 2 bagian, yaitu pada bagian atas disebut Skala Vestibuli, dan pada bagian bawah disebut skala timpani. Diantara skala vestibuli dan skala timpani terdapat skala media. Bagian atas Skala media dibatasi oleh membran vestibularis (reissner) dan bagian bawahnya oleh membran basilaris.

Dalam skala vestibuli dan Skala Timpani terdapat cairan yang disebut dengan cairan perilimfe. Cairan ini berasal dari cairan serebrospinal yang masuk melalui sebuah saluran kecil, kemudian bermuara di vestibuli. Sedangkan dalam skala media terdapat cairan yang disebut dengan endolimfe yang belum diketahui darimana asalnya.

Pada Bagian atas membran basilaris terdapat suatu struktur khusus yang dikenal dengan nama organ korti. Organ Korti berfungsi mengubah getaran suara menjadi impuls. Organ Korti adalah struktur yang disusun oleh sel-sel rambut dan sel penyokong, sel rambut pada organ korti ini dihubungkan dengan bagian auditori (pendengaran) dari saraf otak VIII.

2. Vestibuli
Vestibuli adalah bagian yang terdiri dari sakula dan utrikula. Sakula dan Utrikula ini disusun oleh sel rambut yang memiliki struktur khusus, sel rambut ini disebut macula acustika. Sel rambut pada sakula tersusun secara vertikal, sedangkan pada utrikula tersusun secara horizontal. Pada sel rambut macula austica ini tersebar partikel serbuk protein kalsium karbonat (CaCO3) yang disebut otolith. Secara sederhana cara kerja vestibuli dapat dijelaskan :
Saat berubahnya posisi kepala, Otolith yangs sensitif terhadap gravitasi lepas dari sel rambut pada macula asutica, hal ini merangsang timbulnya “respon pendengaran” yang akan direspon oleh otot untuk menjaga keseimbangan.

3. Kanalis Semisirkularis (Saluran Setengah Lingkaran)
Kanalis Semisirkularis adalah saluran setengah lingkarang yang terdiri dari 3 saluran semisirkularis yang tersusun menjadi satu kesatuan dengan posisi yang berbeda.  3 Saluran tersebut adalah :
  • Kanalis Semisirkularis Horizontal
  • Kanalis Semisirkularis Vertikal Superior (Vertikal Atas)
  • Kanalis Semirikularis Vertikal Posterior (Vertikal Belakang)


D. PROSES TERJADINYA PENDENGARAN
Gelombang Suara masuk melalui telinga luar à Masuk ke membran timpani à Membran Timpani mengubah gelombang suara menjadi getaran à Getaran Diteruskan ke Koklea (Rumah Siput à Getaran membuat cairan di rumah siput bergerak à Pergerakan cairan merangsang berbagai reseptor rambut di koklea (rumah siput) à Sel rambut akan bergetar à Getaran akan dikirim melalui saraf sensoris menuju otak dalam bentuk impuls à Otak menerima impuls dan menerjemahkannya sebagai suara

DAFTAR PUSTAKA
Susilowarno,Gunawan, dkk. 2007. BIOLOGI Untuk SMA/MA Kelas XI. Jakarta : Grasindo
Aryulina, Diyah, dkk.2007. BIOLOGI 2 Untuk SMA/MA Kelas XI. Jakarta : Erlangga
Arisworo, Djoko; Yusa. IPA Terpadu untuk kelas IX SMP. Grafindo Media Pratama.


Nah itulah pembahasan kali ini tentang Pengertian, Bagian – Bagian Telinga dan Fungsinya. Semoga artikel ini dapat bermanfaat. Apabila masih ada persoalan yang belum dimengerti tentang postingan kali ini, silahkan diisikan di kotak komentar agar kita dapat mendiskusikannya. Terimakasih telah berkunjung. Sering – sering mampir. J

Sistem Saraf Manusia


Sistem yang berarti suatu rantai yang akan saling berkaitan untuk menjalankan suatu tujuan. Sistem yang saling terhubung di tubuh kita, mengatur aktivitas tubuh kita, sistem itu bisa kita sebut juga sebagai sistem koordinasi.

Pernahkan ketika kamu terjatuh saat kaki tersandung batu? Apa yang kamu lakukan setelahnya? Ya, kita pasti akan merasa sakit, dan mungkin bisa saja menangis. Lain hal nya ketika kita menonton acara hiburan, apa yang akan kamu lakukan? Ya, tentu siapapun yang menonton jika dia normal maka akan tersenyum atau bahkan tertawa terbahak-bahak. Nah, sistem yang mengatur kita terasa sakit maupun teratawa kita sebut sebagai sistem koordinasi.

Baca juga : Sistem Ekskresi Manusia

Sistem koordinasi sendiri nanti akan dibagi menjadi sistem indra, sistem saraf, dan sistem hormon. Secara singkatnya, sistem indra adalah reseptornya baik itu pengecap, pembau, pendengar, penglihat, pengrasa, yang akan meneruskan rangsangan ke bagian dari sistem saraf. Namun bukan berarti di sistem indra tidak ada saraf ya. Selanjutnya sistem saraf, adalah seperti otak dan sel-sel saraf yang menerima rangsangan dan yang nnantinya akan memberikan perintah terhadap tubuh kita. Yang terahir adalah sistem hormone, kerjanya sama dengan sistem saraf, namun berbeda sedikit di bagian bahwa hormone bekerja lambat.

Baca juga : Sistem Peredaran Darah Manusia

Pada kesempatan kali ini, akan kita bahas mengenai sistem saraf, tentu sistem saraf pada manusia.


Sistem saraf menurut definisi seperti yang tadi kita bahas, secara fungsi sendiri sistem saraf sangat dibutuhkan oleh tubuh kita. Berdasarkan kerja sistem saraf yang dimulai dari rangsangan yang masuk, kemudian dikirim ke pusat sistem saraf yaitu di otak, kemudian langsung dikirimkan ke sel saraf lain yang akan menanggapi hal tersebut, dan ahirnya otak memerintahkan alat tubuh kita untuk bergerak. Dari kerjanya, kita bisa ketahui beberapa fungsi sistem saraf, yaitu sebagai pengontrol tubuh kita.

Fungsi sistem saraf, sebagai berikut :
  1. Mengatur organ-organ tubuh
  2. Menerima rangsangan dari lingkungan
  3. Mengendalikan dan memberikan reaksi terhadap rangsangan yang datang.

Penyusun sel saraf sndiri yang utama ada tiga. Akson, badan sel dan dendrit. Tiga bagian tadi kita kelompokan menjadi satu dan disebut neuron. Neuron berjumlah jutaan di dalam sistem saraf. Merupakan penyusun yang utama.

Baca juga : Perjalanan Impuls Saraf

Neuron berdasarkan strukturnya sendiri, dapat dibedakan menjadi :
Neuron Unipolar : Neuron Bipolar, Neuron multipolar

Sedangkan menurut cara kerjanya, di bagi menjadi dua :
  1. Sistem saraf sadar (Sistem saraf Somatik)
  2. Sistem saraf tidak sadar  (Sistem saraf otonom)

-          Sistem saraf simpatis
-          Sistem saraf parasimpatis

Dan berdasarkan letak dari keseluruhan saraf dibagi menjadi dua :
  • Susunan saraf pusat

Susunan Saraf Pusat (SSP) terdiri dari otak dan sumsum tulang belakang atau medulla spinalis. Disini menjadi sangat penting menjaga SSP supaya kita dapat mengontrol tubuh kita dengan baik. Karena kita tahu sistem ini adalah pengontrol tubuh, tempat menerima, menggambarkan, dan pengintegrasi serta menyampaikan  impuls saraf ke otot dan kelenjar.
  • Susunan saraf perifer/tepi

Susunan Saraf Perifer terdiri dari saraf kranial, spinal dan ganglia. Saraf ini akan berhubungan dengan otak, sementara saraf spinal akan berhubungan dengan spinalis, medulla spinalis. Ciri khas nya adalah sel-sel dan serabut sarafnya terletak di luar otak dan medulla spinalis, merupakan penghubung bagian tubuh lainnya.

Baca juga : Perbedaan Gerak Biasa dan Gerak Refleks

Ada dua tipe sel saraf pada susunan saraf perifer :
  1. Aferen, yang menerima impuls/saraf.
  2. Eferen, yang mengantarkan ke efektor.


Sedangkan untuk gangguan nya kita akan bahas sedikit ya. Ada beberapa gangguan saraf yang sering terjadi, paling sering terjadi karena pasokan darah yang tidak memenuhi atau tidak mencapai ke sistem saraf.

  • Mononeuropati – Gangguan di saraf perifer (tepi) tunggal akibat trauma, tekanan, atau gangguan suplai darah. Contoh di sini bisa juga terjadi karena gangguan sistemik, seperti diabetes mellitus, atau penyakit gangguan perdarahan seperti vaskulitis.

  • Polineuropati, gangguan dari beberapa saraf perifer yang disebabkan oleh proses peradangan, toksik, atau metabolic, yang menyebabkan terganggunya pola difus, distal, dan simetris (sama) yang biasanya mengenai bagian tungkai kaki baru ke lengan.


Itu adalah bagian besar dari gangguan yang terjadi pada saraf manusia. Yang memang paling besar kemungkinan penyebabnya adalah akibat kerusakan pada bagian perdarahan (vaskularisasinya).

Yup, akhirnya selesai juga pembahasan mengenai sistem saraf kita. Meskipun tidak terlalu mendalam, namun semoga dapat berguna untuk pembaca.

Daftar pustaka
  • Mikrajuddi, Dkk.2003.  IPA TERPADU SMP dan MTs Jilid 3A untuk Kelas IX Semester 1.Jakarta:Erlangga
  • Satyanegara.2010.ILMU BEDAH SARAF SATYANEGARA.Jakarta : PT Gramedia pustaka utama
  • Ginsberg, Lionel.2007.Lecture Notes : Neurology.Jakarta:Erlangga
  • Muttaqin, Arif.2008.Buku Ajar Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan Sistem Pernapasan.Jakarta: Salemba Medika

Sistem Ekskresi Invertebrata

Baiklah sobat, kali ini kita akan membahas tentang Sistem Ekskresi pada Invertebrata, beberapa hewan invertebrata yang akan kita bahas yaitu cacing pipih, cacing tanah, dan serangga.


Sebelumnya, kita mengetahui bahwa sistem ekskresi pada hewan invertebrata tergolong tidak rumit jika dibandingkan dengan sistem ekskresi hewan tingkat tinggi. Tujuan sistem ekskresi pada hewan ini juga sama, yaitu untuk mengeluarkan sisa metabolisme dari dalam tubuhnya.

Baca juga : Sistem Pernapasan Hewan Arthropoda

Sistem ekskresi cacing pipih


Pada cacing pipih (contoh : Planaria), proses pengeluaran zat sisa dilakukan melalui pembuluh yang bercabang-cabang dan memanjang pada bagian sisi kiri dan kanan di sepanjang tubuhnya. Setiap cabang akan berakhir pada sel-sel yang dinamakan sel-sel api (solenoid) yang dilengkapi dengan bulu-bulu getar (silia). Saluran ini disebut dengan protonefridium (proton : sebelum, nephros : ginjal). Silia dalam setiap sel api ini bersifat dinamis (selalu bergerak). Akibat gerakan silia tersebut, air, cairan tubuh, dan zat sisa metabolisme lainnya akan terdorong masuk ke dalam saluran ekskresi. Dari saluran ekskresi, zat-zat tadi akan dikeluarkan dari tubuh melalui satu lubang yang dinamakan nefridiofor.

Sistem ekskresi cacing tanah

Cacing tanah termasuk ke dalam kelompok Annelida (cacing bersegmen). Pada setiap segmen terdapat sepasang ginjal atau nefridium (jamak = nefridia), kecuali pada tiga segmen pertama dan segmen terakhir. Setiap nefridium memiliki corong yang terbuka dan memiliki silia yang disebut nefrostom. Nefrostom terletak dalam rongga tubuh dan selalu berisi cairan.


Cairan tubuh akan ditarik dan diambil oleh nefrostom, yang kemudian masuk ke dalam nefridia yang berupa pembuluh panjang dan berliku-liku. Saat cairan tubuh mengalir melalui nefridia terjadi penyerapan kembali zat-zat yang masih bermanfaat, seperti glukosa, air, dan ion-ion. Zat-zat tersebut kemudian diedarkan ke seluruh kapiler sistem sirkulasi. Sisa cairan tubuh, seperti air, nitrogen, dan garam-garam yang tidak dibutuhkan lagi oleh tubuh akan dikeluarkan melalui ujung nefrostom yang berupa lubang.

Sistem ekskresi serangga

Alat ekskresi pada serangga adalah tubula atau pembuluh Malpighi. Pembuluh malpighi adalah tabung kecil yang panjang. Pembuluh ini terletak di dalam homosol dan tergenang di dalam darah. Pangkal dari pembuluh Malpighi ini melekat pada ujung anterior dinding usus dan bagian ujungnya menuju homosol yang mengandung hemolimfa. Hemolimfa adalah darah pada invertebrata dengan sistem peredaran darah terbuka.


Pembuluh Malpighi bagian dalam tersusun oleh selapis sel epitel yang berperan dalam pemindahan urea, limbah nitrogen, garam-garam, dan air dari hemolimfa ke dalam rongga pembuluh. Bahan-bahan yang penting dan air masuk ke dalam pembuluh, lalu diserap kembali secara osmosis di rektum untuk diedarkan ke seluruh tubuh hemolimfa. Sedangkan bahan yang mengandung nitrogen akan diendapkan sebagai kristal asam urat yang akan dikeluarkan bersama feses melalui anus.

Baca juga : Transport Zat Melalui Membran Sel

Referensi :
  • Aryulina, Diah. Biologi 2. Jakarta : ESIS Erlangga, 2009.



Inilah postingan kali ini mengenai Sistem Ekskresi Invertebrata, semoga bermanfaat bagi teman-teman semuanya. Arigatou gozaimasu J

Sistem Pernapasan Ikan

Baiklah sobat, kali ini kita akan membahas tentang Sistem Pernapasan Ikan. Ikan memiliki sistem pernapasan yang unik karena lingkungannya yang berbeda dengan hewan lain. Untuk lebih jelasnya silakan simak uraian berikut.

Baca juga : Sistem Ekskresi Ikan

Alat pernapasan yang dimiliki ikan adalah insang. Salah satu sumber menyebutkan bahwa terdapat pembagian untuk insang tersendiri, (1) ikan yang memiliki tutup insang atau disebut operkulum, fungsinya yaitu untuk melindungi insang. Biasanya operkulum ini terdapat pada ikan yang memiliki tulang sejati, contohnya ikan gurame. (2) ikan yang tidak memiliki tutup insang. Pada sumber tidak disebutkan contohnya, tapi kemungkinan adalah ikan yang tidak memiliki tulang sejati.

Baca juga : Sistem Pernapasan Burung

Pada ikan gurame yang memiliki operkulum, insang terletak di sisi kiri dan kanan kepala ikan, terletak di dalam rongga insang. Jumlah insang pada setiap sisi berkisar antara lima hingga tujuh baris, yang masing-masing dipisahkan oleh celah insang.

Insang pada ikan tersusun dari beberapa bagian,
  • Lengkung insang berupa tulang rawan
  • Rigi-rigi insang berada di depan lengkung insang, tersusun oleh tulang dan berfungsi untuk menyaring air
  • Lembaran insang yang terletak di belakang lengkung insang, berwarna merah, berbentuk seperti sisir, dan di dalamnya banyak mengandung arteri insang.



Ada hal menarik yang dimiliki oleh jenis ikan tertentu, contohnya ikan gabus, gurame dan lele. Ikan tersebut mengalami perluasan insang yang berlipat-lipat dan tidak beraturan yang berbentuk dan bahkan disebut sebagai labirin. Labirin berfungsi sebagai tempat penyimpanan udara sehingga ikan ini dapat hidup di air yang kadar oksigennya rendah.

Baca juga : Sistem Pernapasan Manusia

Mekanisme pernapasan ikan yang memiliki tutup insang adalah:
  1. Fase inspirasi (menarik napas), air dimasukkan ke dalam rongga mulut. Rongga mulut pun akan membesar akibat adanya gerakan ke samping tutup insang.
  2. Fase ekspirasi (membuang napas), setelah ait masuk ke rongga mulut, celah mulut tertutup. Tutup insang akan kembali ke posisinya semula, yang diikuti gerakan selaput ke samping sehingga celah insang terbuka. Terbukanya celah insang menyebabkan air keluar.




Air yang keluar melalui celah-celah insang akan menyentuh lembaran-lembaran insang. Lembaran insang ini banyak mengandung kapiler darah, sehingga pada bagian inilah terjadi pertukaran gas, yaitu darah mengikat oksigen dan melepaskan karbon dioksida.

Ikan bernapas dengan insang. Walaupun mekanisme terjadi melalui inspirasi dan ekspirasi, tetapi pertukaran gas oksigen dan karbon dioksida terjadi di lembaran insang pada saat ekspirasi.

Referensi:
  • Aryulina, Diah. Biologi 2 SMA. Jakarta : ESIS Erlangga, 2009.
  • Mikrajuddi. Biologi 2A SMP/MTs. Jakarta : ESIS Erlangga, 2010.



Inilah postingan kali ini mengenai Sistem Pernapasan Ikan, sobat. Semoga bermanfaat dan jangan sungkan untuk bertanya melalui kolom komentar. Kami sebagai admin akan berusaha menjawab. Arigatou gozaimasu. J

Sistem Ekskresi Ikan

Baiklah sobat, kali ini kita akan membahas mengenai Sistem Ekskresi pada Ikan. Tentu saja sistem sekresi antara ikan dengan makhluk lain berbeda-beda, termasuk manusia. Untuk mengetahui lebih lanjut tentang sistem eksresi manusia, silakan dibaca di Sistem Ekskresi pada Manusia

Ikan hanya mempunyai alat ekskresi berupa sepasang ginjal yang dinamakan opistonefros. Opistonefros ini berbentuk lonjong dan berwarna kecoklatan. Pada beberapa jenis ikan, seperti ikan mas, saluran kemih berhubungan atau menyatu dengan saluran kelenjar kelamin yang disebut sebagai saluran urogenital. Saluran urogenital ini terletak di belakang anus, sedangkan pada beberapa jenis ikan lainnya memiliki kloaka. Selain itu, ginjal juga menjaga keseimbangan cairan tubuh dengan larutan di sekitarnya menggunakan insang sebagai ala ekskresi.

Baca juga : Sistem Pernapasan Pada Hewan Arthropoda

Pada insang yang bernapas menggunakan insang, urin dikeluarkan melalui kloaka atau porus urogenitalis, sedangkan karbon dioksida dikeluarkan melalui insang. Hal ini berbeda dengan ikan yang bernapas menggunakan paru-paru, ikan jenis ini melepaskan karbon dioksida melalui paru-paru dan urin dikeluarkan melalui kloaka.

a. Ikan air tawar, b. Ikan air laut

Perbedaan juga terjadi antara ikan yang hidup di laut dengan ikan yang hidup di air tawar. Ikan air laut memiliki konsentrasi garam yang tinggi di dalam darahnya sehingga cenderung akan menarik cairan dari dalam sel ke dalam darah (karena sifat garam adalah menarik cairan), oleh karena itu insang ikan air laut selalu menyesuaikan kadar garam di dalam darahnya dengan cara membuang kelebihan garam dari tubuhnya. Ginjal ikan air laut juga hanya mengeluarkan sedikit urin untuk mencegah terjadinya kekurangan air di dalam tubuhnya. 

Ikan air tawar cenderung untuk menyerap air dari luar tubuhnya dengan cara osmosis. Insang ikan air tawar aktif memasukkan garam ke dalam tubuhnya agar tidak terjadi “penumpahan” cairan ke dalam sel akibat tekanan osmotik dalam darah yang turun. Ginjal ikan secara aktif juga membantu menseksresikan urin denga konsentrasi air yang tinggi.

Baca juga : Sistem Pernapasan Burung

Ikan yang hidup di air tawar mengekskresikan amonia dan aktif menyerap oksigen melalui insang, serta mengeluarkan urin dalam jumlah banyak, Ikan air laut akan mengekskresikan amonia melalui urin yang jumlahnya sedikit.

Referensi:
  • Aryulina, Diah. Biologi 2. Jakarta : Esis Erlangga, 2009.
  • Firmansyah, Rikky. Mudah dan Aktif Belajar Biologi. Jakarta : Grafindo Media Pratama, 2009.
  • Susilowarno, Gunawan. Biologi SMA/MA Kelas XI. Jakarta : Dinas Pendidikan, 2008.



Inilah artikel kali ini mengenai Sistem Ekskresi pada Ikan, semoga bermanfaat J